Selama ini, saya mengira,
musuh terbesar dalam trading adalah keserakahan.
Namun setelah mengalami lebih banyak,
barulah saya sadar.
Sering kali yang benar-benar membuat seseorang kehilangan kendali,
bukanlah keserakahan.
Melainkan ketidakrelaan.

Keserakahan adalah keinginan untuk mendapatkan lebih.
Ketidakrelaan adalah ketidaksediaan untuk kehilangan
sesuatu yang sudah dimiliki.
Dua hal ini terlihat mirip.
Tapi yang kedua jauh lebih berbahaya.
Karena saat kamu mulai merasa tidak rela,
kamu sebenarnya sudah tidak lagi melihat pasar.
Kamu sedang bergulat melawan penilaianmu sendiri.

Saya telah melihat banyak trader.
Mereka jelas tahu bahwa tren sudah berubah.
Mereka juga tahu bahwa alasan pembelian dulu sudah tidak berlaku lagi.
Tapi tetap saja mereka tidak mau pergi.

Karena begitu mereka menjual,
rasanya seperti membuktikan bahwa mereka salah.

Kemudian, setelah membaca Livermore,
saya semakin mengerti mengapa ia berulang kali menekankan:
pasar tidak pernah salah,
yang salah selalu pikiran manusia.

Dulu saya merasa kalimat itu terlalu sederhana.

Baru setelah mengalami lebih banyak,
saya paham bahwa yang benar-benar sulit
bukanlah menyadari kesalahan.
Melainkan setelah menyadari kesalahan itu,
dan masih bisa pergi dengan tenang.

Dalam ajaran Tao, ada: "Zhi Zhi Bu Dai".
Mengetahui kapan harus berhenti,
bukanlah kegagalan.
Itu adalah sebuah kemampuan.

Saat trading sampai tahap akhir,
yang diperebutkan bukanlah siapa yang lebih berani.
Melainkan siapa yang lebih paham untuk melepaskan.

Trader yang unggul,
bukanlah orang yang selalu berhasil menangkap sampai akhirnya.
Melainkan orang yang, setelah berakhirnya bagian yang memang menjadi miliknya,
punya keberanian untuk keluar.
Karena pasar selalu punya kesempatan berikutnya.

Namun jika seseorang enggan mundur,
sebelum kesempatan berikutnya datang,
ia mungkin sudah terjebak oleh transaksi sebelumnya.$CYS
$ACE
$TAG