Jika target Anda untuk transaksi ini adalah membuat scalp (short-term trade), maka targetnya berada pada rentang 2%-6%. Hitung harga take profit berdasarkan titik entry (harga saat Anda membuka posisi). Jangan menaruh take profit di bawah level support atau di atas level resistance, agar take profit tidak mengenai angka bulat besar. Selain itu, untuk posisi short-term, Anda perlu memantau sentimen pasar secara tepat waktu. Jika arah yang terjadi berlawanan dengan arah entry Anda—misalnya terjadi kelanjutan penurunan atau kenaikan yang terus beruntun—maka Anda harus melakukan stop loss dengan cepat dan tegas.
Scalp/short-term harus menggunakan stop loss yang kecil. Usahakan stop loss dalam waktu 3 poin atau kurang; kalau tidak, karena target profit tidak terlalu tinggi, menahan posisi (holding) terlalu lama akan mudah berujung rugi lebih besar, sehingga kehilangan makna dari trading short-term.
Untuk short-term, biasanya saya langsung mengisi penuh posisi dalam satu order, menekankan prinsip “cepat”. Pilih titik entry yang relatif lebih unggul, lalu pasang order dengan baik. Setelah membuka posisi, bila sudah mencapai target, langsung take profit—jangan berkhayal atau merasa enggan untuk keluar. Jika Anda memilih scalp, berarti Anda harus meninggalkan tren besar (big trend) dan melakukan “masuk cepat, keluar cepat”.
Selain itu, setelah take profit pada scalp satu kali, jangan langsung berbalik arah (reverse). Jika scalp bisa menghasilkan profit, biasanya berarti tren dan arah Anda masih sejalan. Pembalikan tren tidak terjadi secara instan, sehingga sangat tidak disarankan untuk melakukan reverse setelah take profit short-term.
Setelah stop loss pada short-term, reverse memang bisa dipertimbangkan; tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi dibanding reverse setelah take profit.

Setan Tua