Yang ditulis benar-benar luar biasa—sebuah renungan yang sangat menusuk hati, mengungkap hakikat takdir. Kita selalu mengira takdir adalah pengaturan dari pihak luar; padahal, “nasib” adalah duplikasi pola perilaku diri sendiri—kepribadian tidak berubah, pilihan tidak berubah, maka akhir pun akan menjadi serupa; “peruntungan” adalah secara proaktif melompat keluar dari kenyamanan yang membius, melawan naluri, lalu membuat keputusan yang berbeda.
Belenggu terbesar dalam hidup tidak pernah berasal dari penderitaan yang datang dari luar, melainkan dari kebiasaan berpikir yang ketinggalan zaman yang terbentuk dari waktu ke waktu. Yang disebut “mengubah peruntungan” tidak pernah berarti menunggu kesempatan datang, melainkan terlebih dahulu membenahi kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar dalam diri. Setiap kali bertahan dengan cara yang berlawanan dengan sifat asli, itu adalah titik balik untuk menulis ulang hidup.
Belenggu terbesar dalam hidup tidak pernah berasal dari penderitaan yang datang dari luar, melainkan dari kebiasaan berpikir yang ketinggalan zaman yang terbentuk dari waktu ke waktu. Yang disebut “mengubah peruntungan” tidak pernah berarti menunggu kesempatan datang, melainkan terlebih dahulu membenahi kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar dalam diri. Setiap kali bertahan dengan cara yang berlawanan dengan sifat asli, itu adalah titik balik untuk menulis ulang hidup.
