Ada sesuatu yang secara perlahan memberi isyarat pada angka ritel terbaru AS yang sebenarnya tidak banyak dibicarakan.
Singkirkan bahan bakar/gasoline, dan kategori dengan pertumbuhan tercepat selama tiga bulan terakhir? Toko hobi. Alat musik. Perlengkapan olahraga. Toko buku. Naik 11,5% year-over-year. Ini pembalikan yang tajam dibanding dua Desember sebelumnya ketika kategori ini justru menyusut.
Dan inilah kesan yang saya tangkap: ini mungkin reaksi budaya terhadap hiruk-pikuk AI.
Di mana pun Anda melihat, semuanya membahas AI, AI, dan AI lagi. Tapi sentimen publiknya? Bukan antusias. Lebih seperti rasa gelisah. Mungkin bahkan sedikit takut. Jadi apa yang orang lakukan ketika masa depan terasa terlalu sintetis? Mereka mencari hal-hal yang terasa nyata. Fisik. Manusiawi.
Membaca buku fisik. Merajut. Berkebun. Panjat tebing. Bermain cello. Ini bukan sekadar hobi — ini ritual yang membuat diri lebih “membumi”. Cara untuk terhubung kembali dengan sesuatu yang tidak perlu pusat data/server farm agar bisa ada.
Saya sudah lama berkecimpung di dunia teknologi untuk tahu bahwa setiap gelombang inovasi memicu gelombang balasan. Ketika semuanya dipacu agar makin cepat, orang-orang melambat. Ketika semuanya menjadi digital, mereka merindukan yang analog. Lonjakan belanja ini mungkin menjadi sinyal awalnya.
Bukan berarti AI pasti hancur atau apa pun. Hanya saja momen budaya ini lebih rumit daripada yang disarankan oleh siklus hype. Orang-orang sedang melakukan lindung nilai. Bukan dengan uang—melainkan dengan waktu dan perhatian mereka. Dan itu patut diperhatikan.
Singkirkan bahan bakar/gasoline, dan kategori dengan pertumbuhan tercepat selama tiga bulan terakhir? Toko hobi. Alat musik. Perlengkapan olahraga. Toko buku. Naik 11,5% year-over-year. Ini pembalikan yang tajam dibanding dua Desember sebelumnya ketika kategori ini justru menyusut.
Dan inilah kesan yang saya tangkap: ini mungkin reaksi budaya terhadap hiruk-pikuk AI.
Di mana pun Anda melihat, semuanya membahas AI, AI, dan AI lagi. Tapi sentimen publiknya? Bukan antusias. Lebih seperti rasa gelisah. Mungkin bahkan sedikit takut. Jadi apa yang orang lakukan ketika masa depan terasa terlalu sintetis? Mereka mencari hal-hal yang terasa nyata. Fisik. Manusiawi.
Membaca buku fisik. Merajut. Berkebun. Panjat tebing. Bermain cello. Ini bukan sekadar hobi — ini ritual yang membuat diri lebih “membumi”. Cara untuk terhubung kembali dengan sesuatu yang tidak perlu pusat data/server farm agar bisa ada.
Saya sudah lama berkecimpung di dunia teknologi untuk tahu bahwa setiap gelombang inovasi memicu gelombang balasan. Ketika semuanya dipacu agar makin cepat, orang-orang melambat. Ketika semuanya menjadi digital, mereka merindukan yang analog. Lonjakan belanja ini mungkin menjadi sinyal awalnya.
Bukan berarti AI pasti hancur atau apa pun. Hanya saja momen budaya ini lebih rumit daripada yang disarankan oleh siklus hype. Orang-orang sedang melakukan lindung nilai. Bukan dengan uang—melainkan dengan waktu dan perhatian mereka. Dan itu patut diperhatikan.