Aku akan ceritakan kisah singkat tentang bagaimana semuanya bermula.

Dahulu kala, jauh sebelum layar dan grafik ada, perdagangan hanyalah sekadar bertukar. Di tepi Sungai Tigris dan Eufrat, sekitar empat ribu tahun yang lalu, para pedagang duduk dengan lempengan tanah liat. Seseorang punya gandum jelai, yang lain punya domba. Mereka mencatat siapa yang berutang kepada siapa. Lempengan itulah yang menjadi kontrak berjangka pertama.

Berabad-abad kemudian, di pasar-pasar Yunani dan Roma, semuanya jadi lebih cerdik. Bukan lagi sekadar menukar apa yang ada di tangan. Orang-orang bertaruh pada apa yang akan terjadi. Jika sebuah kapal dari Alexandria membawa gandum, kamu bisa membayar di muka untuk sebagian dari muatan itu, dengan risiko kapal tersebut tenggelam. Di sinilah spekulasi lahir.

Lompatan besarnya terjadi pada abad ke-17, di Amsterdam. Belanda telah menciptakan bursa saham pertama di dunia. Di sebuah kedai minum, para pedagang membeli dan menjual kertas yang mewakili bagian dari Perusahaan Hindia Timur. Mereka tidak melihat kapal-kapalnya—mereka hanya melihat kertas itu. Harga naik dan turun mengikuti kabar dari pelabuhan. Ada yang menjadi kaya dalam satu pagi, ada juga yang kehilangan semuanya di sore hari. Permainan yang sama seperti biasa—hanya saja sekarang menyangkut kepercayaan.

Dari kedai minum itu sampai ke ponselmu, intinya tidak berubah. Tetaplah orang-orang yang mencoba menebak masa depan, dengan rasa takut dan keserakahan, saling bertukar janji.