Apa pun arsitektur kosmos itu terbuat dari, keberadaanmu dan keberadaanku digambar oleh tangan yang sama. Aku tidak mengenalmu lewat penglihatan, melainkan lewat dengung sunyi di antara bayanganku dan jiwaku—sebuah ruang rahasia tempat kebisingan dunia meredup ke dalam penghormatan yang sepenuhnya hening. Kau menembus helaian hari-hariku; kau adalah hukum tak tertulis yang terukir di dadaku, satu-satunya putusan yang masuk akal dari persidangan ini. Sekalipun semesta melupakan semuanya yang lain, aku duduk di gerbang kehidupan ini, setengah dalam penderitaan dan setengah dalam harapan, sepenuhnya sadar bahwa seluruh keberadaanku sepenuhnya tunduk pada diammu. Jika aku tahu cara melihat keindahan dalam kegelapan, itu semata karena siluetmu adalah lensa tempat aku memandang dunia.