Defisit Juli mencapai $432B — yang terbesar untuk bulan Juli yang pernah tercatat dan kesenjangan bulanan terbesar ke-4 sepanjang sejarah. Itu lonjakan $312B dibanding Juni.

Beberapa pemikiran:

Pertama, konteks itu penting. Juli selalu berantakan karena keunikan waktu dalam pembayaran pemerintah. Di beberapa tahun, Anda mendapat pembayaran ganda Jaminan Sosial atau gaji militer yang bergeser. Jadi perbandingan dari bulan ke bulan bisa berisik.

Namun demikian, $432B benar-benar tidak wajar. Kita menjalankan defisit seolah-olah sedang resesi, padahal tidak. Pengangguran rendah, PDB tumbuh, penerimaan pajak seharusnya baik-baik saja. Tapi kenyataannya, inilah yang terjadi.

Apa yang mendorongnya? Belanja tidak melambat. Bunga atas utang kini menjadi salah satu pos terbesar dalam anggaran — lebih dari $1T bila diproyeksikan setahun. Ini efek pengganda dari suku bunga yang lebih tinggi bertemu dengan tumpukan utang $34T+. Sekarang ini bersifat struktural, bukan siklus.

Dampak pasar? Obligasi pemerintah harus menyerap seluruh penerbitan ini. Pasokan lebih banyak, permintaan tetap sama = tekanan ke atas pada imbal hasil kecuali The Fed turun tangan atau pembeli asing ikut hadir. Dan karena The Fed masih dalam mode pengetatan kuantitatif, mereka *tidak* melakukannya.

Ini latar untuk semuanya — mengapa imbal hasil obligasi 10-tahun terus diuji lebih tinggi, mengapa dominasi fiskal makin menjadi skenario dasar, mengapa inflasi mungkin akan tetap lebih “lengket” daripada yang dipikirkan konsensus.

Anda tidak bisa menjalankan defisit seperti ini selamanya tanpa konsekuensi. Salah satu: pertumbuhan harus dipercepat secara dramatis (kecil kemungkinan), pajak dinaikkan (secara politik sulit), belanja dipangkas (selamat mencoba), atau kita “menginflasikan” jalan keluar (jalur yang paling mungkin, secara historis).

Pantau pasar obligasi. Lebih cerdas daripada judul-judul berita.