Gejala depresi meningkat di Tiongkok, baik sepanjang lintasan kehidupan maupun lintas kohor. Seperti yang ditunjukkan oleh Tingshuai Ge, Frans Johannes van Leeuwen, Quanbao Jiang, dan Liliya Leopold, kesenjangan gejala depresi berdasarkan gender, pendidikan, dan status pendaftaran rumah tangga (hukou) meningkat seiring usia, tetapi menyempit lintas kohor.
Di Tiongkok, kesehatan mental berkembang cepat sebagai perhatian penting dalam kesehatan masyarakat. Prevalensi seumur hidup gangguan mental di Tiongkok sekitar 17 persen, dan lebih dari 90 persen orang yang mengalami masalah tersebut tidak pernah menerima perawatan (Huang et al., 2019; Lu et al., 2021). Namun, konteks sosiokultural Tiongkok tampaknya menjadi semakin menantang bagi kesehatan mental.
Tantangan terhadap kesehatan mental tampaknya terakumulasi sepanjang lintasan kehidupan masyarakat Tiongkok. Pada masa remaja, tekanan akademik merupakan stresor utama. Setelah meninggalkan universitas, mahasiswa menghadapi persaingan yang intens di pasar kerja. Pada tahap karier, mereka menghadapi stres terkait pekerjaan yang lebih tinggi dan tekanan finansial. Ketika individu memasuki usia setengah baya, stres ini bertepatan dengan dimulainya penurunan kesehatan fisik dan beban kewajiban keluarga yang berat. Pada usia lebih tua, orang mengalami akumulasi penyakit kronis dan disabilitas.
Kohor yang lahir di bawah kondisi sosiohistoris yang berbeda mungkin menghadapi stresor yang unik. Masa awal generasi yang lahir sebelum 1949 ditandai dengan periode perang yang berlangsung terus-menerus, sedangkan kohor yang lahir antara 1959 dan 1961 menghabiskan masa pembentukan mereka di tengah salah satu kelaparan terparah yang dialami negara tersebut. Kohor yang lahir antara 1962 dan 1965 termasuk dalam generasi baby boom Tiongkok; mereka yang lahir antara 1966 dan 1976 mengalami gangguan pendidikan; dan mereka yang lahir pada 1978 dan setelahnya tumbuh dalam konteks kemajuan pesat yang didorong oleh marketisasi, urbanisasi, dan globalisasi. Pada tahun 1980, kebijakan anak tunggal diberlakukan secara resmi. Mereka yang tumbuh sejak 1990-an mengalami meningkatnya persaingan dalam pendidikan dan pekerjaan.
Dalam sebuah studi terbaru (Ge et al., 2025), kami menggunakan data dari survei longitudinal yang mewakili secara nasional untuk meneliti lintasan kehidupan (life course trajectories) dan perubahan sosial dalam kesehatan mental di Tiongkok, sekaligus melihat perbedaan proses-proses tersebut berdasarkan gender, pendidikan, dan status pendaftaran rumah tangga (hukou).
Data dan metode
Kami menganalisis data dari empat gelombang China Family Panel Studies (CFPS), yang dilakukan dari 2012 hingga 2020 di 25 provinsi (kotamadya atau wilayah otonom) di Tiongkok. Kesehatan mental dinilai menggunakan enam keadaan mental negatif yang dialami individu pada minggu sebelumnya, seperti merasa depresi, kesulitan melakukan apa pun, tidur yang buruk, merasa kesepian, merasa sedih, dan merasa tidak mampu mengikuti kehidupan mereka. Setiap pertanyaan menawarkan empat opsi dari “Hampir tidak pernah” (0) hingga “Kebanyakan waktu” (3). Skor gejala depresi (0–18) diperoleh dengan menjumlahkan skor total dari keenam pertanyaan dan dinormalkan (standardized), dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan tingkat gejala yang lebih tinggi. Dalam studi ini digunakan model regresi linier hierarkis.
Pola berdasarkan usia, kohor, dan gender
Seperti terlihat dari panel kiri pada Gambar 1, gejala depresi meningkat secara bertahap sepanjang lintasan kehidupan dan lintas kohor. Rata-rata peningkatan seiring usia selama periode pengamatan (2012–2020) adalah 26 persen dari satu standar deviasi di semua kohor. Namun, peningkatan gejala depresi yang terkait usia menjadi semakin intens lintas kohor.

Kesimpulan
Kesimpulannya, kami menemukan peningkatan gejala depresi seiring bertambahnya usia dan lintas kohor (cohorts) di Tiongkok. Kesenjangan berdasarkan gender, pendidikan, dan status hukou meningkat seiring usia, namun lebih sedikit meningkat lintas kohor—meski berada pada tingkat gejala depresi yang lebih tinggi secara keseluruhan. Hasil kami menunjukkan bahwa kesehatan mental masyarakat Tiongkok terus-menerus menghadapi tantangan sepanjang lintasan kehidupan. Dengan transformasi mendalam masyarakat Tiongkok, generasi muda menghadapi ragam tantangan kesehatan mental yang lebih tinggi. Perbedaan sumber daya yang tersedia dapat berkontribusi pada meningkatnya ketimpangan kesehatan mental seiring usia, sedangkan kebijakan terbaru Tiongkok terkait kesetaraan gender, peluang pendidikan, dan sumber daya wilayah perkotaan-perdesaan telah membantu mempersempit ketimpangan tersebut pada kohor-kohor yang lebih baru.
Temuan ini juga mengungkap bahwa kesehatan mental menunjukkan pola yang sangat berbeda di Tiongkok dibandingkan yang kita ketahui dari negara-negara Barat, khususnya dalam hal pola lintasan kehidupan (life course patterns) serta kesenjangan berdasarkan gender dan pembagian desa-kota.
Sumber
Ge, Tingshuai, Frans Johannes Van Leeuwen, Quanbao Jiang, dan Liliya Leopold. (2025). Mental Health in China: Social Change in Life Course Trajectories. Population and Development Review, https://doi.org/10.1111/padr.12684.
Huang, Yueqin, Yu Wang, Hong Wang, Zhaorui Liu, Xin Yu, Jie Yan, Yaqin Yu, dkk. (2019). Prevalence of Mental Disorders in China: A Cross-Sectional Epidemiological Study. The Lancet Psychiatry 6 (3): 211–24.
Lu, Jin, Xiufeng Xu, Yueqin Huang, Tao Li, Chao Ma, Guangming Xu, Huifang Yin, dkk. (2021). Prevalence of Depressive Disorders and Treatment in China: A Cross-Sectional Epidemiological Study. The Lancet Psychiatry 8 (11): 981–90.
Tingshuai Ge, Frans Johannes van Leeuwen, Quanbao Jiang & Liliya Leopold (30 Juni 2025). Depresi meningkat di Tiongkok. Tersedia di: https://www.niussp.org/health-and-mortality/depression-is-rising-in-china/.
