Dari satu trade BTC yang rugi $13.33, yang saya pelajari adalah: saat melakukan trading crypto, kebanyakan orang hanya mengingat trade yang profit. Tapi untuk saya, trade yang benar-benar tidak bisa saya lupakan justru bukan trade yang profit—melainkan trade BTC yang ditutup dengan -13.33 USDT.

Pada suatu hari, saya sedang melihat BTCUSDT Perpetual. Pada saat itu, saya merasa harga BTC mungkin akan turun kembali, bukan terus naik, jadi saya memutuskan untuk masuk Short.

Entry Price-nya adalah 60,190.1 USDT.

Sekarang setiap kali saya melihat screenshot ini lagi, hal pertama yang langsung masuk ke mata saya adalah leverage 120x. Saat itu, saya tidak tahu seberapa berbahaya leverage yang sedang saya gunakan, jadi saya langsung masuk ke posisi itu.

Saat BTC mulai sedikit turun, saya merasa semuanya akan baik-baik saja, dan saya percaya pada analisis saya.

Namun, pasar ternyata tidak seperti yang saya bayangkan.

BTC akhirnya naik, dan posisi Short saya perlahan bergerak ke arah rugi. Average Close Price terakhir adalah 62,136.5 USDT, dan saat saya menutup trade, hasilnya berakhir dengan -13.33 USDT.

Rugi itu tidak terlalu besar. Tapi setelah trade itu selesai, saya lebih banyak berpikir, bukan “apakah saya salah membaca chart”, melainkan “kenapa saya menggunakan leverage setinggi itu?” Sebenarnya, dalam trading, mengetahui arah yang benar saja tidak cukup. Tidak ada jaminan bahwa market akan berjalan persis seperti yang kita harapkan pada waktu yang kita inginkan. Dan jika leverage terlalu tinggi, pergerakan harga yang kecil sekalipun bisa berdampak besar pada posisi kita—jadi perlu diwaspadai. Dulu, saat masuk ke sebuah trade, saya hanya memikirkan berapa banyak profit yang bisa saya dapatkan. Setelah trade ini, saya jadi lebih terbiasa memikirkan, kalau salah, sejauh mana saya bisa menanggungnya. Ini adalah pelajaran terbesar untuk saya dalam trade ini. Bukan hanya soal seberapa besar profit yang bisa saya raih, tapi saya perlu tahu seberapa besar kerugian yang bisa saya tahan.

Selain itu, saya tidak bisa memaksa pasar untuk bergerak sesuai keinginan saya. Bahkan kalau Anda yakin analisis Anda benar, pasar tetap bisa bergerak berlawanan dalam waktu singkat. Pada saat itu, mengakui kesalahan Anda dan bisa keluar juga merupakan bagian dari trading.

Pada hari itu, saya rugi -13.33 USDT, dan sekarang saya tidak menganggap itu sebagai semata-mata sebuah kerugian. Saya melihatnya sebagai peringatan yang membuat saya meninjau kembali kebiasaan trading saya. Dalam trading, tidak mungkin selalu menang. Pasti ada kerugian. Kadang, trade yang terlalu saya yakini justru yang akan memberi saya pelajaran.

Sebelum trade ini, saya terlalu fokus pada agar trade tersebut benar. Setelah trade ini selesai, saya jadi lebih fokus pada bagaimana cara menjaga aset saya agar tidak ikut terdampak, bahkan jika trade itu ternyata salah.

Sekarang setiap kali saya melihat kembali BTCUSDT Short / 120x / -13.33 USDT di screenshot itu, bagi saya itu sudah bukan sekadar kerugian biasa. Mungkin trade yang profit bisa jadi kenangan yang menyenangkan, tapi trade ini membuat saya melihat kembali kesalahan saya sendiri agar bisa jadi trader yang lebih baik.

Journey crypto bukan cuma dibangun dari profit. Ada hari-hari yang hijau. Ada juga hari-hari yang merah. Ada juga hari-hari di mana kita seperti berenang.😁😁 Di sebagian trade, kita benar. Di sebagian trade, kita salah. Yang penting adalah, setelah satu trade rugi, jangan sampai kita mengulang kesalahan yang sama di trade berikutnya. Untuk saya, -13.33 USDT adalah pelajaran yang nilainya lebih dari sekadar uang yang hilang.

Ini adalah salah satu kisah crypto trade saya yang paling tidak bisa saya lupakan.

Kamu juga, tiap kali kamu memikir ulang… jangan lupa

Bukankah masih ada trade yang bisa saja menang?

Bagikan juga pengalaman kalian di kolom komentar ya.🫶

Setiap kesalahan adalah sebuah pelajaran.💪🥰🍊🍀

#ShareYourStoryWithBinanceAugust