Mitos Utang AS Mulai Runtuh

Obligasi pemerintah AS selama ini diakui secara global sebagai “aset paling aman”.
Tapi mitos itu, belakangan ini mulai retak.

Pada hari Rabu, Kementerian Keuangan AS melelang 22 miliar dolar surat utang pemerintah tenor 10 tahun.
Imbal hasil yang dimenangkan mencapai 4,683%, tertinggi sejak 2001.
Lalu pada hari Kamis, lelang surat utang tenor 30 tahun imbal hasilnya melonjak ke 5,216%, sekaligus mencatat rekor sejak 2001.

Yang lebih menusuk, lelang tenor 30 tahun kali ini juga menghadirkan “efek ekor” (tail effect).
Terjemahan ke bahasa sehari-hari: investor minta imbal hasil lebih tinggi agar mau membeli.
Kalau tidak ditambah, tidak dibeli.

Lihat juga komposisi pembelinya, perubahannya makin jelas.
Dulu bank sentral luar negeri dan institusi asing bisa menyerap sekitar 70% dari setiap porsi lelang.
Kali ini turun menjadi 66,8%.
Sementara dealer tingkat pertama di dalam negeri yang harus menanggung, porsi yang dipaksa membeli naik menjadi 11,5%, naik 150 basis poin dibanding bulan Juli.

Satu kalimat: Dana asing sedang diam-diam menarik diri.

Kenapa bisa terjadi seperti ini?
Secara logika, inflasi AS di bulan Juli melandai.
Core CPI (CPI inti) naik 2,5% secara tahunan, terendah sejak 2021.
Kalau inflasi turun, imbal hasil jangka panjang seharusnya ikut turun.
Tapi kenyataannya justru terbalik.

Artinya, masalahnya bukan lagi soal apakah The Fed akan menurunkan suku bunga atau tidak.
Dorongan utamanya adalah: ukuran utang pemerintah AS terlalu besar, defisit fiskal terlalu tinggi, dan ke depan masih akan menerbitkan lebih banyak surat utang.
Pasar mulai bertanya-tanya: kamu meminjam sebanyak ini, nanti akan membayar dengan apa?

Menghadapi situasi seperti ini, apa yang bisa dilakukan pemerintah AS?
Kira-kira ada tiga jurus.
Pertama, menyesuaikan struktur penerbitan utang: kurangi surat utang jangka panjang, perbanyak surat utang jangka pendek, untuk menekan beban bunga di depan.
Namun itu hanya makan malam dengan menunda tagihan esok—utang jangka pendek akan segera digulirkan dan diterbitkan lagi, biayanya pada akhirnya tetap akan kembali.
Kedua, menekan The Fed agar menurunkan suku bunga, melonggarkan likuiditas, dan menghentikan pengurangan neraca (quantitative tightening), agar kebutuhan tetap terjaga.
Tapi meski inflasi sudah turun, masih terasa “kaku” (sticky). Apakah penurunan di bulan September bisa terjadi, bahkan Powell sendiri belum bisa memastikan.
Ketiga, memakai instrumen regulasi untuk mengarahkan bank-bank di AS dan reksa dana pasar uang agar lebih banyak membeli surat utang pemerintah, menopang permintaan secara “buatan”.

Intinya, semuanya tindakan darurat.
Masalah sebenarnya, tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sebelumnya, Musk yang ingin mengutak-atik defisit fiskal pun pada akhirnya tidak juga berhasil dan malah dengan malu-malu keluar dari Departemen Efisiensi Pemerintah.

Perubahan ini, apa hubungannya dengan isi dompet orang biasa?

Di pasar saham, begitu imbal hasil jangka panjang naik, semua aset perlu dinilai ulang.
Semakin tinggi valuasinya, semakin besar dampaknya—misalnya saham teknologi dan saham pertumbuhan.
Sebaliknya, saham sektor perbankan yang termasuk value stock bisa saja diuntungkan karena selisih bunga (spread) melebar.

Untuk dolar AS, kali ini berbeda.
Dulu, saat suku bunga naik, dana akan mengalir masuk.
Kali ini, suku bunga naik karena kurangnya kepercayaan.
Akibatnya, kemungkinan muncul situasi dana melepas dolar dan surat utang AS sekaligus.

Soal emas, dua kekuatan sedang saling tarik-menarik.
Saat suku bunga naik, opportunity cost memegang emas meningkat—secara teori itu negatif.
Tapi kredit surat utang AS mendapat potongan (dibayar lebih mahal/dianggap lebih berisiko), sekaligus merangsang dana pelarian (safe-haven) untuk membeli emas.
Dalam beberapa waktu terakhir, emas sudah tidak mengikuti naskah lama berbasis “imbal hasil riil” lagi.
Sekarang ceritanya digerakkan oleh kekhawatiran atas fiskal AS.

Ringkasnya: imbal hasil surat utang AS yang kian tinggi, sudah bukan lagi soal apakah The Fed akan menurunkan suku bunga.
Ini utang terbesar di dunia yang sedang “membayar” kreditnya sendiri dengan imbal hasil yang lebih tinggi.
Pemerintah AS akan mengeluarkan berbagai cara, tapi semuanya hanya untuk menunda.

Ke depan, fokusnya adalah lelang obligasi di bulan September dan rapat kebijakan The Fed.
Mitos bahwa surat utang AS adalah aset paling aman di dunia, makin sulit dipertahankan.
Perombakan besar dalam aset global, nilai tukar, dan pasar keuangan—sudah di depan mata, dan tidak ada jalan kembali.

#SalingFollowSalingSubScribe# #KalauPunyaFollowerAkanDibalas#