Mengapa short selling lebih menguntungkan daripada long?

Orang biasanya memikirkan hubungan antara 100 dikali 1,1 dan 100 dikali 0,9. Dari sudut pandang matematika, memang seperti itu: short selling bisa menghasilkan lebih banyak dibanding long.

Di Amerika, ada banyak institusi perbankan investasi profesional yang hanya melakukan short selling, tidak melakukan long. Bahkan ketika indeks pasar saham sedang naik, mereka tetap bisa menghasilkan banyak uang melalui short selling.

Pada dasarnya, hampir tidak ada perusahaan yang melakukan short selling yang akan mengalami kerugian; justru perusahaan yang melakukan long sering mengalami masalah keuangan.

Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena short selling bersifat pasti, sedangkan long bersifat tidak pasti. Seseorang pasti akan meninggal, tetapi tidak bisa dihitung pada usia berapa dia akan meninggal.

Sebenarnya pasar saham juga sama. Ketika muncul layar sentuh pada ponsel, kamu tidak tahu apakah Android yang akan menang atau Apple. Tapi ada satu hal yang pasti: Nokia pasti akan “dilindas” (tersingkir).

Contohnya, ketika industri otomotif baru mulai berkembang, ada banyak perusahaan seperti Ford, General Motors, dan Mercedes-Benz. Harus investasi ke perusahaan yang mana?

Pada fase seperti ini, kamu bisa melakukan short selling terhadap perusahaan yang terkait dengan industri kereta/kuda (marriage), karena teknologi baru pasti akan menyingkirkan teknologi yang ketinggalan. Ini sudah pasti.

Intinya, ini juga merupakan bentuk investasi berbasis nilai: kamu tahu bahwa nilai suatu aset sedang terkikis, jadi kamu harus melakukan short selling terhadapnya.