Harga minyak terus mengalami tren penurunan karena kapal tanker yang mengangkut minyak mentah meninggalkan Teluk Persia, meskipun masih ada ancaman dan minimnya kemajuan dalam negosiasi antara Iran dan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz. Bloomberg melaporkan bahwa pasar tampaknya mengabaikan ketegangan geopolitik ini, yang mencerminkan situasi kompleks di mana pasokan terus mengalir di tengah ketidakstabilan regional.

Rachel Ziemba, pendiri Ziemba Insights, membagikan analisanya mengenai konflik yang berlangsung di Timur Tengah bersama Abeer Abu Omar dari Bloomberg dalam Horizons Middle East & Africa. Ia menyoroti bahwa konflik yang dimulai pada akhir Februari belum menghasilkan gangguan besar terhadap ekspor minyak, dengan pasar seolah-olah mendiskontokan potensi risiko terjadinya penyempitan pasokan yang signifikan.

Ziemba menekankan bahwa keberangkatan kapal tanker yang terus berlanjut dari kawasan tersebut menunjukkan bahwa para pedagang dan operator bertaruh bahwa penyangga pasokan dan rute alternatif akan mencegah lonjakan harga yang tajam. Ia juga mencatat bahwa kemajuan terbatas dalam perundingan antara Iran dan Oman terkait Selat Hormuz belum berujung pada gangguan pasokan yang nyata, sehingga harga minyak tetap terkendali.

Namun, ia memperingatkan bahwa situasinya masih rapuh, dan setiap eskalasi atau terobosan dalam pembicaraan dapat dengan cepat mengubah dinamika pasar. Untuk saat ini, pasar tampaknya berfokus pada aliran minyak mentah yang stabil meski terdapat ketidakpastian geopolitik, yang membuat harga tetap tertekan.

Lebih banyak detail tersedia dalam unggahan resmi Binance Square. #OilMarket #Geopolitics #StraitOfHormuz