Mendampingi anak menulis PR sampai pukul sebelas. Dia berkata, “Kalau komputernya hang, jadi apa?”, dan aku jadi bingung.
Aku sempat ingin menjawab, “Restart saja,” tapi tiba-tiba teringat bagian yang beberapa hari ini aku baca dari whitepaper Dusk—mereka menyebutnya sebagai “mode darurat”. Dalam kondisi normal, proses penerbitan blok berjalan dengan tiga langkah: usulan, verifikasi, dan persetujuan. Jika 2/3 orang menyetujui, semuanya bisa lanjut. Tapi kalau sebagian besar node terputus atau macet, gagal berturut-turut 16 kali, sistem akan otomatis beralih ke mode darurat. Mekanisme timeout langsung dimatikan, dan proses terus berjalan sampai benar-benar ada blok yang terbit.
Intinya bukan “restart karena hang”, melainkan “ganti cara dan tetap dipaksa jalan sampai tembus”.
Biasanya orang tidak terlalu mempedulikan hal seperti ini; kalau di-chain lancar atau tidak, tidak ada yang benar-benar mengurus, dan mekanisme konsensusnya seberapa ketat pun jarang dipertanyakan oleh siapa pun. Tapi konteks finansial berbeda. Yang dibutuhkan institusi adalah, “meski dalam situasi ekstrem, sistem tidak boleh berhenti”—ini jauh lebih penting daripada TPS.
Hadiah untuk penerbitan blok juga dirancang cukup rinci: 80% untuk penebit blok, 10% untuk orang yang memberikan suara, dan 10% untuk protokol itu sendiri. Ini sengaja dibuat untuk mencegah ada pihak yang sengaja membuat beberapa putaran awal gagal demi memperebutkan hadiah.
Biasanya aku tidak menulis detail seperti ini, tapi semakin dalam aku mengulik, semakin terasa: apakah sebuah proyek mau menjelaskan dengan jelas “apa yang dilakukan saat skenario terburuk”, lebih berharga daripada sekadar menampilkan halaman promosi yang terlihat sangat indah. Sekarang DuskEVM masih di testnet, dan performa konsensus ini dalam benar-benar menghadapi kondisi ekstrem belum melewati verifikasi skala besar.
Aku tidak tahu apakah ini bisa berhasil, tapi proyek yang berani menaruh rencana darurat secara terang-terangan di depan mata, aku ingin lihat lebih jauh.
@Dusk $DUSK
#dusk