Rugi tidak menakutkan, yang menakutkan adalah mentalmu runtuh, lalu terus saja terperosok ke lubang yang sama!

Minggu lalu aku mengenal seorang penggemar. Dalam beberapa order berturut-turut, dia rugi 5000U. Kondisinya sudah agak pusing. Pada malam harinya, dia duduk di depan komputer, berpikir untuk membuat satu order lagi agar bisa balik modal.
Aku bertanya padanya: “Kamu tahu nggak kenapa kamu rugi?”
Dia bilang: “Karena pergerakan pasar nggak tepat.”
Aku lanjut bertanya: “Kalau begitu, untuk order berikutnya, apa yang menjamin kamu akan melihatnya dengan benar?”
Dia terdiam.

Banyak orang setelah rugi, reaksi pertamanya adalah mencari kesempatan untuk balikan modal (recovery), tapi sangat sedikit yang berhenti untuk mengecek kenapa mereka sebenarnya kalah. Akhirnya jadinya begini—kali ini rugi 5000U, berikutnya tetap rugi 5000U karena masalah yang sama. Yang membedakan bukan seberapa banyak kamu bisa meraih profit, melainkan apakah kamu bisa menemukan penyebab dari kerugian itu.

Aku punya kebiasaan: setiap kali rugi, aku catat. Kapan masuk? Kenapa beli? Apakah dijalankan sesuai rencana? Apakah masuk karena takut ketinggalan? Apakah bertahan mati-matian karena tidak mau mengaku kalah?

Saat baru mulai meninjau ulang, aku juga tidak mau mengakui ada masalah. Kupikir itu karena market yang menjebak, karena seolah-olah ini cuci tangan oleh pihak utama, atau karena nasibku kurang baik. Tapi setelah catatannya semakin banyak, baru sadar: sebagian besar kerugian itu sebenarnya tidak terjadi karena market. Melainkan karena keputusan dadakan sendiri. Saat harga naik, dia mengejar; saat harga turun, dia panik. Tidak ada sinyal yang jelas untuk entry, tapi langsung masuk. Tidak ada rencana, malah menambah posisi secara sembarangan.

Coba ambil kembali beberapa order terakhir yang rugi, lalu lihat baik-baik. Apakah arahnya yang salah, atau disiplin yang salah. Sekali rugi tidak menakutkan—yang menakutkan adalah mengulang kesalahan yang sama. Pertumbuhan dalam trading yang sesungguhnya bukanlah mendapatkan profit pertama, tapi setelah mengalami kerugian, kamu menjadi pribadi yang lebih stabil.

Mau cepat balik modal? Tinggalkan sifat seperti ‘kaum pemula’ (serakah terbawa arus), lampu sudah dinyalakan untukmu—kamu ikut atau tidak?