Baru-baru ini saya melihat diskusi Musk tentang strategi AI SpaceX, dan kesan terbesar saya bukanlah berapa banyak pendapatan yang bisa dihasilkan AI, melainkan bahwa logika persaingan perusahaan teknologi di masa depan mungkin sedang berubah.
Dulu, saat melihat SpaceX, pasar lebih banyak menyoroti peluncuran roket, pengguna Starlink, dan antariksa komersial.$SPCX
Tapi jika melihat dari sudut yang lebih luas, kita akan sadar bahwa yang ingin dibangun Musk sebenarnya bukan sekadar perusahaan antariksa, melainkan sebuah sistem sirkuit tertutup dari energi, komputasi, komunikasi, hingga infrastruktur dasar di luar angkasa.
Di darat bertanggung jawab untuk melatih model, sementara di luar angkasa bertugas untuk menerapkan inferensi.
Ruang imajinasi di baliknya adalah: inti dari persaingan AI di masa depan mungkin tidak hanya kemampuan model, melainkan siapa yang memiliki pasokan komputasi yang lebih murah, berskala lebih besar, dan lebih stabil.
Tentu saja, ketika pasar memberi harga untuk masa depan, ekspektasi itu juga bisa lebih dulu “diantisipasi” (di-early discount).
Apakah pendapatan dari AI bisa benar-benar terwujud, berapa banyak modal yang diperlukan untuk memperluas komputasi, dan apakah penempatan di luar angkasa benar-benar efisien secara komersial—semua itu akan menjadi pertanyaan yang perlu diverifikasi dalam beberapa tahun mendatang.
Namun tidak bisa disangkal bahwa AI sedang mendefinisikan ulang batas-batas perusahaan teknologi.
Dulu, ketika kita membahas benteng pertahanan (moat) perusahaan internet adalah pengguna dan data.
Sekarang mungkin perlu menambahkan satu hal lagi:
Siapa yang bisa menguasai infrastruktur bagi era cerdas generasi berikutnya.
#spcx
Dulu, saat melihat SpaceX, pasar lebih banyak menyoroti peluncuran roket, pengguna Starlink, dan antariksa komersial.$SPCX
Tapi jika melihat dari sudut yang lebih luas, kita akan sadar bahwa yang ingin dibangun Musk sebenarnya bukan sekadar perusahaan antariksa, melainkan sebuah sistem sirkuit tertutup dari energi, komputasi, komunikasi, hingga infrastruktur dasar di luar angkasa.
Di darat bertanggung jawab untuk melatih model, sementara di luar angkasa bertugas untuk menerapkan inferensi.
Ruang imajinasi di baliknya adalah: inti dari persaingan AI di masa depan mungkin tidak hanya kemampuan model, melainkan siapa yang memiliki pasokan komputasi yang lebih murah, berskala lebih besar, dan lebih stabil.
Tentu saja, ketika pasar memberi harga untuk masa depan, ekspektasi itu juga bisa lebih dulu “diantisipasi” (di-early discount).
Apakah pendapatan dari AI bisa benar-benar terwujud, berapa banyak modal yang diperlukan untuk memperluas komputasi, dan apakah penempatan di luar angkasa benar-benar efisien secara komersial—semua itu akan menjadi pertanyaan yang perlu diverifikasi dalam beberapa tahun mendatang.
Namun tidak bisa disangkal bahwa AI sedang mendefinisikan ulang batas-batas perusahaan teknologi.
Dulu, ketika kita membahas benteng pertahanan (moat) perusahaan internet adalah pengguna dan data.
Sekarang mungkin perlu menambahkan satu hal lagi:
Siapa yang bisa menguasai infrastruktur bagi era cerdas generasi berikutnya.
#spcx
