Melihat betapa hebohnya pasar saham A (A-share) sekarang, aku jadi teringat masa-masa saya main dana di A-share pada tahun 2020. Saat itu aku memasukkan modal 200 ribu, berulah selama setahun dan meraih untung 100 ribu—setiap hari senang mempelajari berbagai pengetahuan tentang dana. Sekarang kalau dipikir-pikir, betapa konyolnya diriku dulu.
Benar, tahun 2021 juga sama seperti tahun ini: meriah. Tinggal scroll grup mana saja, ajak teman makan, obrolannya semuanya tentang saham dan dana. Hasilnya, mulai paruh kedua tahun itu keuntungan mulai turun (retracement). Saat itu aku tidak paham apa pun tentang siklus; aku juga tidak tahu cara take profit dan stop loss. Aku merasa saja kalau ditahan terus, nanti bisa naik kembali. Akhirnya aku banting tulang sampai 2022—bukan hanya 100 ribu keuntunganku hangus, bahkan modal pun masih rugi 20 ribu. Baru di situ aku paham siklus. Aku langsung menjual dana tersebut, lalu menunggu penurunan Bitcoin hingga ke level 16 ribu, saat itulah aku membelinya lagi. #BTC
Pandangan kebanyakan orang adalah, dana yang dipegang dalam jangka panjang pasti menghasilkan keuntungan. Soal itu, aku tidak setuju. Tidak bisa dipungkiri memang ada sebagian kecil dana yang performanya benar-benar bagus—bisa melewati siklus bull dan bear. Tapi mayoritas manajer dana hanya memanfaatkan kesempatan, makan bersih, dan mengambil semuanya. Bahkan mereka sepenuhnya hanya dipakai untuk jadi pembeli pengganti (penopang) bagi pihak utama. Sudah bertahun-tahun pun begitu; beberapa dana yang aku pilih sendiri saat ini masih merugi. Jadi berinvestasilah dengan memperhatikan siklus besar, jangan sampai terjebak skema “tukang goreng” (dog庄).
Intinya cuma satu kalimat: beli saat tak ada orang yang peduli, jual saat keramaian memuncak.
Benar, tahun 2021 juga sama seperti tahun ini: meriah. Tinggal scroll grup mana saja, ajak teman makan, obrolannya semuanya tentang saham dan dana. Hasilnya, mulai paruh kedua tahun itu keuntungan mulai turun (retracement). Saat itu aku tidak paham apa pun tentang siklus; aku juga tidak tahu cara take profit dan stop loss. Aku merasa saja kalau ditahan terus, nanti bisa naik kembali. Akhirnya aku banting tulang sampai 2022—bukan hanya 100 ribu keuntunganku hangus, bahkan modal pun masih rugi 20 ribu. Baru di situ aku paham siklus. Aku langsung menjual dana tersebut, lalu menunggu penurunan Bitcoin hingga ke level 16 ribu, saat itulah aku membelinya lagi. #BTC
Pandangan kebanyakan orang adalah, dana yang dipegang dalam jangka panjang pasti menghasilkan keuntungan. Soal itu, aku tidak setuju. Tidak bisa dipungkiri memang ada sebagian kecil dana yang performanya benar-benar bagus—bisa melewati siklus bull dan bear. Tapi mayoritas manajer dana hanya memanfaatkan kesempatan, makan bersih, dan mengambil semuanya. Bahkan mereka sepenuhnya hanya dipakai untuk jadi pembeli pengganti (penopang) bagi pihak utama. Sudah bertahun-tahun pun begitu; beberapa dana yang aku pilih sendiri saat ini masih merugi. Jadi berinvestasilah dengan memperhatikan siklus besar, jangan sampai terjebak skema “tukang goreng” (dog庄).
Intinya cuma satu kalimat: beli saat tak ada orang yang peduli, jual saat keramaian memuncak.