Setelah 8 hari volume transaksi 24 juta, saya ingin membahas dengan serius soal menjadi full-time trader.
Pertama, saya perkenalkan diri dulu secara singkat.
Saya masuk ke dunia ini pada 2016, dan sekarang sudah hampir sepuluh tahun. Di tengahnya tidak selalu melakukan trading; sempat bolak-balik mencoba banyak hal.
Saya pernah main di pasar primer, pernah juga di pasar sekunder, bahkan pernah ikut ngambil (hairy/“毛”?)—waktu market sedang bagus, pernah dapat hasil yang lumayan. Tapi juga pernah mengalami rugi sampai hampir tidak punya apa-apa.
Beberapa tahun terakhir, kalau melihat ke belakang, ternyata saya memang sempat meraup beberapa keuntungan dari trading. Tapi lucunya—pada akhirnya banyak yang malah rugi di bisnis Web2.😂
mungkin sejak lahir saya memang bukan tipe yang jago berbisnis.
berputar jauh-jauh, akhirnya saya menemukan bahwa yang benar-benar ingin saya habiskan waktu jangka panjang untuk dipelajari, dan yang juga relatif saya kuasai, tetap saja adalah trading.
jadi ke depannya, saya berencana menaruh lebih banyak fokus pada trading full-time.
tapi sebelum itu, saya ingin memberi peringatan untuk teman-teman yang ingin trading full-time:
jangan sampai karena melihat orang lain menghasilkan uang dari trading, lalu impulsif langsung berhenti kerja dan duduk di meja permainan dengan seluruh harta.
kalau benar-benar ingin full-time, justru saya menyarankan supaya dulu menyiapkan penghasilan yang stabil di luar trading, atau tabungan hidup yang cukup panjang—setidaknya pastikan hal-hal seperti uang sewa, makan, dan biaya keluarga tidak memaksa kamu menghasilkan uang dari pasar.
kenapa?
karena ketika sewa bulan depan pun kamu harapkan dari order ini, trading sudah berubah maknanya.
order yang seharusnya stop loss, kamu akan berpikir untuk menunggu lagi; yang tadinya tidak ada kesempatan, kamu paksa diri untuk entry; setelah rugi satu kali, yang ada di kepala bukan lagi evaluasi ulang, melainkan:
“Saya harus menghasilkan uang hari ini.”
dalam kondisi seperti ini, sebaik apa pun tekniknya tetap mudah berubah bentuk.
jadi selama ini saya merasa:
modal pertama untuk trading full-time bukanlah USDT di akun, melainkan waktu yang bisa kamu pertahankan di meja permainan tanpa emosi/kalut.
apalagi jangan sampai melakukan trading dengan meminjam uang.
trading itu sendiri sudah punya tekanan psikologis yang cukup besar. Kalau ditambah bunga, cicilan, dan uang orang lain, yang menghadapi kamu bukan lagi sekadar fluktuasi harga.
kamu boleh rugi sesuai anggaran trading, tapi jangan menambah leverage pada keputusan hari ini dengan menjadikan kehidupan masa depan sebagai jaminan.
rugi itu sendiri tidaklah mengerikan.
sudah bertahun-tahun trading, saya makin menerima satu hal: selama kamu masih berada di pasar, loss adalah sebagian dari biaya trading.
yang benar-benar membuat jarak antar trader terbuka lebar adalah: bagaimana kamu menangani diri setelah habis rugi.
ini juga hal yang belakangan saya rasakan sangat dalam.
selama 8 hari ini, saya benar-benar melempar diri saya sepenuhnya ke pasar; totalnya saya sudah menembus sekitar 24 juta volume trading, dan saya juga dapat sedikit uang.
tapi pengalaman terbesar bukan tentang berapa banyak uang yang didapat, melainkan:
trading sepenuh hati benar-benar melelahkan.
setelah dikerjakan dengan intensitas tinggi, saya makin yakin: yang benar-benar menentukan apakah seorang trader bisa bertahan jangka panjang bukan hanya teknik, strategi, dan feel chart—lebih dari itu adalah lingkungan, disiplin, dan mindset.
pertama, trading full-time sebaiknya punya lingkungan yang benar-benar tenang dan tidak terganggu.
terutama untuk short-term, saat volatilitas tinggi mungkin dalam hitungan beberapa detik keputusan harus diambil. Ada orang di samping mengucapkan sesuatu, telepon mendadak masuk, bahkan perhatian terganggu sedikit saja—semuanya bisa membuat eksekusi yang tadinya sudah direncanakan jadi berubah bentuk.
yang paling tidak enak dalam trading bukanlah salah arah.
yang terjadi justru: semula tidak salah arah, tapi karena gangguan dari luar kamu membuat order jadi salah.
kedua, sebelum entry, pastikan stop loss dan take profit sudah dipikirkan matang-matang.
di mana entry, salah di mana keluar; melihat mana yang benar, mana yang harus dilihat. Kapan mengurangi posisi, yang terbaik adalah sudah ada jawabannya sebelum menekan tombol entry.
karena setelah punya posisi, orang sulit untuk benar-benar objektif.
saat floating loss kamu tidak rela memotong, saat floating profit kamu justru takut profitnya dipulangkan balik—akhirnya sangat mudah berubah dari “menjalankan sistem trading” menjadi “mengambil keputusan berdasarkan angka untung-rugi”.
jadi kebiasaan saya makin sederhana:
terima dulu hasil terburuk dari trading ini, baru buka posisi lagi.
ada satu hal lagi yang sekarang benar-benar saya rasakan:
setelah selesai entry, benar-benar jangan terus menatap layar kalau tidak ada urusan.
order yang tadinya rencana dipegang beberapa jam, kamu mengamatinya dengan candle 1 menit—begitu muncul candle bearish pertama kamu mulai ragu, dua candle bearish membuat posisi jadi dikurangi; kalau ada sedikit penarikan balik, kamu malah takut profit hilang lagi.
akhirnya arah benar sepenuhnya, tapi profitnya tidak bisa kamu jaga karena kamu sendiri yang lengah. 😂
pasang stop loss dan take profit dengan benar, dan kunci harga untuk peringatan di posisi penting; kalau sudah begitu, lakukan saja sesuai rencana.
Yang benar-benar perlu diawasi trader bukanlah setiap candle K, melainkan apakah logika tradingnya sendiri terganggu.
lalu ada satu disiplin yang paling ketat dari saya sendiri:
selama stop loss, saya berhenti.
saya tidak akan langsung membuka order berikutnya dengan berpikir untuk balikin modal.
karena saat tadi stop loss, yang benar-benar berbahaya biasanya bukan pasarnya, melainkan emosi diri sendiri.
“Tadi rugi, order berikutnya harus balik untung.”
begitu kalimat itu muncul di kepala, langkah-langkah setelahnya sangat mudah berubah menjadi revenge trading.
jadi metode saya sendiri agak ekstrem:
begitu terkena stop loss, saya langsung tutup exchange, 3 hari tidak menatap chart.
tidak mengincar bottom, tidak mengejar kenaikan, dan tidak berharap langsung mengembalikan rugi secepatnya.
baca buku, pelajari sesuatu, keluar jalan-jalan, biar benar-benar lepas dari kondisi trading.
等状态恢复以后, baru kembali untuk evaluasi ulang:
kenapa masuk?
arahnya salah atau posisi masuknya yang salah?
apakah stop loss dijalankan sesuai rencana?
kalau diulang lagi, apakah saya akan membuka order ini lagi?
pikirkan baik-baik, lalu kembali.
pasar selalu tidak kekurangan peluang, tapi modal dan mindset tidak tahan kalau terus-terusan kalut/terbawa emosi.
terakhir, saya mau sampaikan satu lagi pengalaman yang makin lama makin dalam selama bertahun-tahun:
pastikan sering berinteraksi dengan orang-orang yang hebat, tapi jangan pernah menyewa/menyerahkan otakmu kepada orang lain.
saya sangat suka ngobrol dengan trader-trader yang berbeda—mulai dari membahas pergerakan pasar, logika, sampai posisi (size). Kadang, hanya satu kalimat dari orang lain benar-benar bisa membuat kamu melihat hal-hal yang tidak kamu perhatikan.
tapi informasi semua orang hanya bisa dijadikan referensi.
tidak boleh karena ada big boss yang bilang buy lalu kamu ikut buy; orang lain bilang sell, kamu langsung berbalik arah.
sehebat apa pun orangnya, tetap bisa salah baca.
akun itu milikmu, ukuran posisi itu milikmu, dan pada akhirnya yang menanggung untung-rugi tetap kamu.
kamu boleh mendengar pendapat seratus orang, tapi pada saat kamu menekan tombol entry, kamu harus punya alasanmu sendiri.
kalau kamu meninggalkan pendapat orang lain, dan kamu sendiri pun tidak tahu kenapa kamu harus membuka order ini, maka order itu memang seharusnya bukan milikmu.
setelah bertahun-tahun trading, justru saya makin merasa bahwa trading yang benar-benar matang tidak punya banyak hal-hal yang berbau heboh/terlihat keren.
punya jaminan hidup, tidak trading dengan utang;
kontrol ukuran posisi, pasang stop loss;
fokus saat waktunya bertindak;
saat harus mengakui salah, lakukan stop loss;
saat perlu istirahat, tinggalkan pasar;
dengarkan pendapat orang lain, tapi keputusan akhirnya tetap milikmu sendiri.
untuk saya, volume trading 24 juta selama 8 hari ini—lebih tepatnya bukan disebut sebuah prestasi, melainkan pengingat.
trading bukanlah soal siapa yang buka order paling sering dalam sehari, juga bukan soal siapa yang tidak pernah rugi.
yang benar-benar membedakan adalah, setelah berkali-kali mengalami profit dan loss, apakah kamu masih bisa mempertahankan ritmemu sendiri, dan apakah kamu masih bisa terus berada di meja permainan.
kalau uang rugi, bisa dicari lagi.
kesempatan yang terlewat, masih akan datang lagi.
yang benar-benar penting: jangan sampai karena satu rangkaian pergerakan harga, kamu kehilangan modal, mindset, dan hidup sekaligus.
ke depannya juga saya rencanakan untuk mencatat dengan serius kehidupan trading full-time saya. Saat menghasilkan uang, pasti juga akan ada saatnya “dipukul”. 😂
dan juga selamat datang semua trader jenius untuk saling berbagi dan belajar.
informasi kita saling jadi referensi, pandangan saling berbenturan; tapi pada akhirnya tetap satu kalimat:
trading milikmu, keputusan milikmu; akun milikmu, tanggung jawab juga milikmu.

