📖《Profil Tokoh Keuangan》— Dari meraup untung 100 juta hingga rugi 70 juta,

Dia hanya melakukan satu tindakan: tidak pergi.

Kakak pakai masker, kreator finansial dengan jutaan pengikut. Lama bertaruh besar (long) pada chip penyimpanan. Slogan yang ia teriakkan begitu keras: “Simpan jadi raja”.

Saat kondisi pasar bagus, keuntungan mengambang di akunnya sempat melonjak hingga 160 juta–180 juta. Dia tetap tidak pergi.

Pada Juli, sektor penyimpanan ambruk secara kolektif. SK Hynix dari puncak turun lebih dari 58%, produk berbasis leverage ikut hancur. Keuntungan mengambangnya habis dipulangkan semuanya—belum lagi, akunnya justru malah rugi 67 juta. 🩸

Saat rugi, dia malah pergi! Kontras ini sungguh membuat orang merasa miris.

Di dalam video, euforia masa lalunya sudah tidak terlihat. Wajahnya tampak muram, penuh keraguan pada diri sendiri; seperti seluruh energinya tersedot habis. Alamat IP dialihkan ke daerah lain. Ada yang bilang dia pergi untuk menyegarkan pikiran, ada pula yang bilang dia bersembunyi dari orang.

Bagaimanapun, orang-orang yang mengikutinya membeli juga rugi lebih parah darinya.

Kita tentu penasaran: kenapa dia yang sempat meraup untung 100 juta tidak pergi?

Jawabannya sederhana: kerakusan yang berlebihan membuat seseorang mengalami “buta yang selektif”.

Dalam beberapa tahun terakhir, logika saham penyimpanan terlalu mulus: setiap kali koreksi terjadi, harganya selalu mencetak rekor tertinggi lagi. Setelah pengalaman seperti itu berulang beberapa kali, otak membentuk semacam ilusi: kali ini juga sama—meskipun turun, pasti akan naik lagi.

Fenomena ini pernah menjadi masalah umum di kalangan jutaan investor ritel di Korea.

Saat sudah bisa mengantongi untung 100% ingin berlipat dua. Setelah menjadi dua kali lipat, ingin jadi dua kali lagi. Target makin tinggi, makin enggan untuk menjual. Sampai pasar berbalik wajah—semua laba ditelan habis dalam sekali teguk.

Ini bukan masalah teknis, melainkan masalah sifat manusia.

Investor kelas atas bahkan sudah mengungkapnya: “Salah satu wujud konkret dari kerakusan adalah: mendapat untung kecil tapi menanggung rugi besar. Saat menghasilkan uang, terburu-buru untuk mengunci laba; saat rugi, berharap harga kembali. Semakin rugi, semakin besar.”

Kakak pakai masker justru kebalikannya: dia menghasilkan uang besar tapi tidak pergi. Uang besar pun tidak bisa dipertahankan.

Hal paling sulit dalam trading bukanlah stop loss, melainkan mengambil profit secara tegas setelah meraup untung besar.

Memotong posisi butuh keberanian. Mengambil profit butuh menentang naluri manusia. Naluri manusia secara alami cenderung “mengambil untung sebelum terlambat”. Namun justru ketika sudah menghasilkan uang besar, yang paling tidak mau berhenti adalah diri sendiri.

Kerakusan membuat orang percaya pada informasi yang menguntungkan dirinya, membuat seseorang tetap keras kepala memegang posisi padahal pasar sudah memberikan sinyal untuk menjual. Akhirnya, kemenangan yang tadinya bisa mengubah hidup justru berubah menjadi bencana.

Kalau kamu menghasilkan untung 100 juta di Bitcoin atau saham, apakah kamu akan segera mengunci profit dan keluar secara tegas?