Sepertinya semua orang salah satu hal: ketika satu koin naik, orang mulai FOMO, bull market datang—cepat beli! Ketika satu koin turun, orang mulai panik sampai tidak tahan, tidak kuat lagi—cepat jual, cepat lari.
Apakah kalian memang melakukan seperti itu? Justru kalian mengoperasikannya dengan terbalik.
Apa tidak seharusnya begini: bull market jual koin, bear market beli koin?
Inilah perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. Orang kaya itu melakukan trik: saat bear market datang, harga koin mulai menghantam (dump), dia melepaskan berita-berita negatif dengan gila-gilaan, emosi panik menyebar, dan orang-orang tidak tahan. Lalu dia menipu/menurunkan semua orang dari kendaraan, kemudian dia membangun posisi dengan membeli tumpukan (saham/coin) tersebut. Saat bull market datang, dia dengan gila-gilaan merilis kabar baik, menciptakan suasana FOMO, menipu orang-orang untuk membeli dengan harga tinggi sampai distribusi/penyerahan tumpukan selesai.
Cara pikir orang miskin justru kebalikannya. Saat bull market, emosi FOMO tinggi, mereka gila-gilaan membeli dan naik kendaraan, lalu mereka menggantung dirinya di pohon. Saat bear market, emosi panik terus berlanjut; mereka tidak tahan, lalu memotong kerugian (cut loss) untuk mengejar koin yang lebih murah—akhirnya koin/tumpukan itu dipotong/dijual ke bandar (sebagai lawan).
Dalam transaksi selalu ada pihak lawan. Jika orang yang membeli saat bull market lebih banyak, sebanyak itulah jumlah yang harus dijual—lalu siapa yang sedang menjual? Saat bear market, pihak yang menjual lebih banyak: jika ada yang menjual sekian, sebanyak itu pula akan ada yang membeli—lalu siapa yang membeli?
Sebelum melakukan trading, jelaskan dulu logikanya. Inilah alasan mengapa orang biasa kalau beli pasti turun, dan kalau jual pasti naik. Naik terlalu banyak pasti jatuh, turun terlalu banyak koin akan naik.
Satu kalimat: beli saat bear market, jual saat bull market. Sedikit turun sedikit beli, besar turun besar beli; kalau tidak turun tidak beli, sedikit naik sedikit jual, besar naik besar jual.
Apakah kalian memang melakukan seperti itu? Justru kalian mengoperasikannya dengan terbalik.
Apa tidak seharusnya begini: bull market jual koin, bear market beli koin?
Inilah perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. Orang kaya itu melakukan trik: saat bear market datang, harga koin mulai menghantam (dump), dia melepaskan berita-berita negatif dengan gila-gilaan, emosi panik menyebar, dan orang-orang tidak tahan. Lalu dia menipu/menurunkan semua orang dari kendaraan, kemudian dia membangun posisi dengan membeli tumpukan (saham/coin) tersebut. Saat bull market datang, dia dengan gila-gilaan merilis kabar baik, menciptakan suasana FOMO, menipu orang-orang untuk membeli dengan harga tinggi sampai distribusi/penyerahan tumpukan selesai.
Cara pikir orang miskin justru kebalikannya. Saat bull market, emosi FOMO tinggi, mereka gila-gilaan membeli dan naik kendaraan, lalu mereka menggantung dirinya di pohon. Saat bear market, emosi panik terus berlanjut; mereka tidak tahan, lalu memotong kerugian (cut loss) untuk mengejar koin yang lebih murah—akhirnya koin/tumpukan itu dipotong/dijual ke bandar (sebagai lawan).
Dalam transaksi selalu ada pihak lawan. Jika orang yang membeli saat bull market lebih banyak, sebanyak itulah jumlah yang harus dijual—lalu siapa yang sedang menjual? Saat bear market, pihak yang menjual lebih banyak: jika ada yang menjual sekian, sebanyak itu pula akan ada yang membeli—lalu siapa yang membeli?
Sebelum melakukan trading, jelaskan dulu logikanya. Inilah alasan mengapa orang biasa kalau beli pasti turun, dan kalau jual pasti naik. Naik terlalu banyak pasti jatuh, turun terlalu banyak koin akan naik.
Satu kalimat: beli saat bear market, jual saat bull market. Sedikit turun sedikit beli, besar turun besar beli; kalau tidak turun tidak beli, sedikit naik sedikit jual, besar naik besar jual.