🚨 KASUS ADANI SUDAH BERAKHIR — TAPI PERTANYAANNYA TIDAK.
Seorang hakim federal AS telah menolak perkara pidana terhadap miliarder India Gautam Adani.
Dan kemudian muncullah bomnya.
Hakim Nicholas Garaufis tidak sekadar menghapus perkara begitu saja. Dalam putusan setebal 47 halaman, ia mengkritik tajam pejabat senior Departemen Kehakiman AS Trent McCotter, menyebut proses pengambilan keputusan “sangat tidak biasa” dan mengangkat kekhawatiran serius tentang bagaimana penuntutan ditinggalkan.
Adani dan tujuh orang lainnya didakwa di New York pada 2024 terkait tuduhan skema suap dan penipuan besar-besaran. Jaksa AS menuduh para terdakwa mengatur lebih dari $250 JUTA suap dugaan kepada pejabat India untuk mengamankan kontrak energi surya, sekaligus diduga menyesatkan investor AS dan institusi keuangan.
Adani membantah melakukan kesalahan.
Lalu, pada Mei 2026, DOJ bergerak untuk menghentikan penuntutan secara permanen.
Di sinilah cerita menjadi kelam.
Tim hukum Adani, yang dipimpin oleh Robert Giuffra — seorang pengacara yang juga menjadi salah satu pengacara pribadi Donald Trump — menyerahkan sekitar 600 halaman materi kepada Departemen Kehakiman, dengan alasan bahwa perkara tersebut tidak seharusnya dilanjutkan.
Dan ada satu angka lain yang menghantui seluruh episode:
💰 $10 MILIAR.
Sebelumnya, Adani berjanji akan menginvestasikan $10 miliar di Amerika Serikat dan menciptakan sekitar 15.000 lapangan kerja.
Pengacaranya, menurut laporan, membahas investasi tersebut selama perundingan yang melingkupi kasus ini.
Tapi inilah poin pentingnya:
Hakim tidak menemukan bukti bahwa janji $10 miliar memengaruhi keputusan DOJ untuk menghentikan penuntutan.
Jadi tidak — pengadilan tidak menetapkan bahwa Adani membeli jalan keluarnya.
Namun, hakim tetap memiliki pertanyaan serius tentang proses tersebut.
Garaufis mengkritik McCotter karena tampaknya mengabaikan pendapat profesional dari banyak pejabat federal dan terlalu bergantung pada penilaiannya sendiri.
#Binance $BTC
Seorang hakim federal AS telah menolak perkara pidana terhadap miliarder India Gautam Adani.
Dan kemudian muncullah bomnya.
Hakim Nicholas Garaufis tidak sekadar menghapus perkara begitu saja. Dalam putusan setebal 47 halaman, ia mengkritik tajam pejabat senior Departemen Kehakiman AS Trent McCotter, menyebut proses pengambilan keputusan “sangat tidak biasa” dan mengangkat kekhawatiran serius tentang bagaimana penuntutan ditinggalkan.
Adani dan tujuh orang lainnya didakwa di New York pada 2024 terkait tuduhan skema suap dan penipuan besar-besaran. Jaksa AS menuduh para terdakwa mengatur lebih dari $250 JUTA suap dugaan kepada pejabat India untuk mengamankan kontrak energi surya, sekaligus diduga menyesatkan investor AS dan institusi keuangan.
Adani membantah melakukan kesalahan.
Lalu, pada Mei 2026, DOJ bergerak untuk menghentikan penuntutan secara permanen.
Di sinilah cerita menjadi kelam.
Tim hukum Adani, yang dipimpin oleh Robert Giuffra — seorang pengacara yang juga menjadi salah satu pengacara pribadi Donald Trump — menyerahkan sekitar 600 halaman materi kepada Departemen Kehakiman, dengan alasan bahwa perkara tersebut tidak seharusnya dilanjutkan.
Dan ada satu angka lain yang menghantui seluruh episode:
💰 $10 MILIAR.
Sebelumnya, Adani berjanji akan menginvestasikan $10 miliar di Amerika Serikat dan menciptakan sekitar 15.000 lapangan kerja.
Pengacaranya, menurut laporan, membahas investasi tersebut selama perundingan yang melingkupi kasus ini.
Tapi inilah poin pentingnya:
Hakim tidak menemukan bukti bahwa janji $10 miliar memengaruhi keputusan DOJ untuk menghentikan penuntutan.
Jadi tidak — pengadilan tidak menetapkan bahwa Adani membeli jalan keluarnya.
Namun, hakim tetap memiliki pertanyaan serius tentang proses tersebut.
Garaufis mengkritik McCotter karena tampaknya mengabaikan pendapat profesional dari banyak pejabat federal dan terlalu bergantung pada penilaiannya sendiri.
#Binance $BTC