Berdiri di atas atap sambil mengembuskan angin, sapi perah menelepon dan bertanya apakah BEAT sudah lari

Angin di atas atap kencang sekali, hingga kaus yang kupakai berkibar-kibar liar. Aku duduk bersila di samping tangki air. Dua botol bir, satu bungkus kacang. Ponsel kubiarkan di atas pangkuan. Di bawah, lampu-lampu dari beribu rumah menyala; di atas, langit kelabu seperti kabut.

Ponsel berdering. Itu guruku, sapi perah.

"Jin Niu, tokenmu $BEAT sudah lari belum?"

"Belum." Kukekal posisi yang kupegang: beli di 3.1, sekarang 3.26. Keuntungan mengambang 160U.

"Naik 50% tapi kamu belum lari? Dulu KAITO juga nggak lari, akhirnya rugi 800"

"Kali ini beda," jawabku, dan bahkan aku sendiri sampai merasa kalimat itu terdengar familier.

"Setiap kali kamu bilang beda. Dulu ESP beda, sebelumnya KAITO juga beda..."

"Sudahlah, kamu mau aku ngapain?"

"Kurangi posisi. Jual setengah dulu buat mengunci profit, sisanya lihat apakah sebelum 6.18 high itu bisa ditembus."

Kupikir-pikir, masuk akal. Jual setengah dulu, biar uangnya “mendarat” dengan aman.

"Sebentar, terakhir kamu suruh aku kurangi SOL. Begitu aku jual, malah langsung dobel."

Di seberang telepon, hening tiga detik.

"Kalau begitu... mending kamu biarkan semuanya saja?"

"Kamu kan bilang jual setengah dulu?"

"Iya, jual setengah dulu. Tapi kemarin itu ya... kemarin." Nada sapi perah tidak terlalu meyakinkan.

Kuintip chart. BEAT dari 2.14 naik ke 3.34 lalu kembali ke 3.26. Ujung atasnya (upper wick) menggantung di puncak, seperti jarum penangkal petir yang tergantung di bibir atap—seolah bisa jatuh kapan saja.

"Menurut kamu high sebelum 6.18 bisa tembus nggak?"

"Aku mana tahu. Kalau aku tahu, buat apa aku masih mengelas timah di pabrik elektronik?"

Ya juga. Sapi perah kerja di pabrik elektronik, sementara aku di proyek bangunan, angkat batu-bata. Kalau dijumlah, uang yang kami rugi bareng-bareng mungkin cukup untuk bikin satu gedung di kampung halaman.

"Sudahlah, aku tahan semuanya saja"

"Kamu gila?"

"BEAT punya narasi AI Agent, market cap-nya baru 1 miliar, dan masih ada kompetisi trading buat menopang. Rasanya bisa tembus high sebelumnya."

"Terakhir kamu bilang KAITO punya narasi AI InfoFi juga, dan katanya bakal tembus juga"

Aku kehabisan kata-kata. “Rasaku” memang belum pernah benar.

"Oke, aku jual setengah"

Setelah menutup telepon, kuminum sedikit bir. Jual setengah mengunci 80U. Sisa setengahnya masih ada; biarlah mengalir apa adanya.

Angin di atap makin kencang. Kutarik kaus lebih rapat, lalu kulihat lampu-lampu di bawah. Tak tahu ada berapa banyak orang yang sama-sama menatap layar, sama-sama ragu: lari atau bertahan.

Kacangnya habis. Bir masih sisa setengah botol. Besok tetap harus mengangkat batu. Apa pun BEAT tembus high atau tidak, pekerjaan bangunan tetap harus kulakukan.

#币圈日常 #合约爆仓 $BEAT