Teman-teman! Baru masuk dunia koin/crypto dua tahun pertama, aku benar-benar adalah trading maniac, dan merasa diri sendiri sangat berusaha. Tiap hari begadang, mengawasi chart sampai larut malam, sambil ikut dan menyimak belasan grup (grup komunitas) dalam sehari—transaksiku belasan kali sehari. Trading seperti perang.
$SNDK
Tapi saat akhir bulan untuk rekap, dana di akun terus menurun. Saat itu aku merasa sangat kesal, seolah pasar memang sengaja menentangku. Setelah menelusuri riwayat transaksi barulah aku paham: semua order yang rugi berasal dari dorongan emosi saat otak lagi panas.
$MU
Saat harga naik 30 poin, aku takut ketinggalan, lalu langsung kejar—akhirnya ketahan (baghold). Saat harga tembus level (breakout/breakdown) tapi aku tidak rela cut loss, jadi menahan sampai kerugian makin membesar. Padahal seharusnya kosong (tidak entry), tapi karena tangan gatal aku tetap membuka posisi. Rasanya kalau tidak trading, uang tidak akan bisa “tersimpan”. Semua dorongan impulsif itu berakar pada gelisah dan serakah. Aku memperlakukan trading seperti berjudi, dan menganggap keberuntungan yang kebetulan sebagai kemampuan diri.
$SKHYNIX
Setelah itu, aku membuat aturan keras untuk diriku: sebelum membuka order, tanyakan pada diri sendiri tiga hal dulu—apakah tren terlihat jelas atau tidak, apakah rasio untung-rugi masuk akal, dan apakah stop loss sudah diset. Kalau semuanya terpenuhi barulah boleh masuk. Setiap hari maksimal hanya dua order; kalau dua kali berturut-turut rugi, langsung tutup aplikasi dan berhenti beroperasi.

Aku menjalankannya selama setengah tahun. Memang tidak terjadi “kaya mendadak” dalam semalam, tapi juga tidak pernah lagi mengalami kerugian besar. Baru saat itulah aku benar-benar paham: trading tidak ditentukan oleh siapa yang paling banyak melakukan aksi, melainkan apakah kita bisa menahan diri dan mengendalikan tangan sendiri. Jangan jadikan gelisah sebagai “kerja keras”, jadikan serakah sebagai ambisi—tahan diri, tenang, supaya bisa melihat pasar dengan jelas.

#亏损