Saya baru masuk saat itu, modal 100 ribu U dipakai beberapa bulan sampai tersisa hanya beberapa ribu. Bukan karena pasar menargetkan saya, tapi karena cara operasinya terlalu berantakan. Dalam sehari ada puluhan transaksi, biayanya menggerus sebagian besar keuntungan—modal pun makin menipis. Melihat orang lain menghasilkan uang dari koin abal-abal, saya ikut-ikutan masuk. Begitu muncul satu candle bearish yang menghantam, saya langsung terjebak. Begadang menatap layar, makin ditatap makin kacau; makin keras berusaha, makin cepat rugi. Kemudian saya mengubah tiga hal. Tidak lagi melihat grafik menit, beralih memakai periode empat jam ke atas untuk menilai tren—dan hanya bergerak saat ada sinyal yang jelas. Dalam sehari hanya melakukan satu-dua transaksi, bahkan tidak melakukan apa-apa pun lebih baik daripada asal bergerak. Menambah posisi hanya memakai keuntungan, modal tidak disentuh. Coba arah dulu dengan ukuran kecil; kalau arahnya benar, pakai profit untuk mendorong posisi. Kalau kena stop loss, langsung keluar. Kalau stop loss berturut-turut dua kali, berhenti dulu dan istirahat, supaya emosi tidak menguasai akun. Pada akhirnya, dalam trading tinggal tiga hal: ikut tren (trend-following), mengontrol porsi (kontrol posisi), dan cut loss. Taruh dulu mental berjudi itu, baru kemudian bicara soal cara menghasilkan uang #DeepSeekResumes$8BFundingRound $ETH $AAPL.US