Ternyata saya mengejar kenaikan di pasar dan terjebak “deep down” itu semua karena saya menganggap “ekspektasi yang sedang dipromosikan orang lain” sebagai “nilai sebuah aset”.
Kalau bidak Anda sedang merosot pelan-pelan dan membuat Anda sangat cemas, sebaiknya luangkan 1 menit untuk membaca kisah ini sampai selesai.
Bertahun-tahun lalu, saat pasar buah sedang paling heboh, semua orang berlomba memuja jeruk yang sedang jadi incaran di momentum tersebut.
Ada sebatang pohon apel yang setiap tahun bisa berbuah dengan stabil, tapi penilaiannya malah turun keras dari 1000 menjadi 100.
Ketika semua orang panik cut loss, memotong posisi, dan mencibirnya, seorang senior investasi yang hampir tidak pernah ikut-ikutan bergerak—bahkan saat harga 100—langsung membeli semuanya.
Logika perhitungan senior itu sangat sederhana:
Bisa balik modal saat dilikuidasi: pohonnya ditebang lalu dijual sebagai kayu bakar; hanya dari menjual kayu saja nilainya sudah bisa jadi 100.
Arus kas dari dalam: selama pohon itu belum mati, setiap tahun masih bisa menghasilkan nilai 10 dari buah apelnya secara stabil.
Akhir dari cerita ini sangat dramatis.
Beberapa tahun kemudian, arah pasar berubah. Jeruk ternyata terlalu banyak, lalu ditinggalkan orang. Harga pohon jeruk pun jatuh 90%. Konsep tentang apel kembali ditiup hangat oleh pasar, bahkan sempat “digoreng” gila-gilaan hingga menyentuh 5000.
Senior itu sudah keluar seluruhnya pada harga 3000.
Modal 100, untung 30 kali lipat.
Kemudian ada orang yang menyesal dan bertanya padanya, “Kalau Anda tunggu dulu, Anda bisa dapat lebih banyak. Bukankah menjual terlalu cepat tidak akan membuat Anda menyesal?”
Senior itu melambaikan tangan:
“Saya membeli pohon yang memang bisa berbuah, bukan ilusi yang digoreng orang. Soal setelah saya keluar, masih bisa naik sampai berapa—itu tugas dari calon penyambung berikutnya, dan itu sudah tidak ada urusan lagi dengan saya.”
Kalau bidak Anda sedang merosot pelan-pelan dan membuat Anda sangat cemas, sebaiknya luangkan 1 menit untuk membaca kisah ini sampai selesai.
Bertahun-tahun lalu, saat pasar buah sedang paling heboh, semua orang berlomba memuja jeruk yang sedang jadi incaran di momentum tersebut.
Ada sebatang pohon apel yang setiap tahun bisa berbuah dengan stabil, tapi penilaiannya malah turun keras dari 1000 menjadi 100.
Ketika semua orang panik cut loss, memotong posisi, dan mencibirnya, seorang senior investasi yang hampir tidak pernah ikut-ikutan bergerak—bahkan saat harga 100—langsung membeli semuanya.
Logika perhitungan senior itu sangat sederhana:
Bisa balik modal saat dilikuidasi: pohonnya ditebang lalu dijual sebagai kayu bakar; hanya dari menjual kayu saja nilainya sudah bisa jadi 100.
Arus kas dari dalam: selama pohon itu belum mati, setiap tahun masih bisa menghasilkan nilai 10 dari buah apelnya secara stabil.
Akhir dari cerita ini sangat dramatis.
Beberapa tahun kemudian, arah pasar berubah. Jeruk ternyata terlalu banyak, lalu ditinggalkan orang. Harga pohon jeruk pun jatuh 90%. Konsep tentang apel kembali ditiup hangat oleh pasar, bahkan sempat “digoreng” gila-gilaan hingga menyentuh 5000.
Senior itu sudah keluar seluruhnya pada harga 3000.
Modal 100, untung 30 kali lipat.
Kemudian ada orang yang menyesal dan bertanya padanya, “Kalau Anda tunggu dulu, Anda bisa dapat lebih banyak. Bukankah menjual terlalu cepat tidak akan membuat Anda menyesal?”
Senior itu melambaikan tangan:
“Saya membeli pohon yang memang bisa berbuah, bukan ilusi yang digoreng orang. Soal setelah saya keluar, masih bisa naik sampai berapa—itu tugas dari calon penyambung berikutnya, dan itu sudah tidak ada urusan lagi dengan saya.”
