Pasar keuangan global sedang menjalani fase yang penuh kehati-hatian setelah US Nasdaq 100 — yang didominasi oleh produsen chip Nvidia dan penyedia cloud hyperscale seperti Alphabet, Amazon, dan Microsoft — masuk ke wilayah koreksi. Namun, arus investasi jangka panjang tetap berpusat pada teknologi. Kecerdasan buatan (AI) menjadi prioritas investasi utama dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari cara banyak perusahaan global besar membayangkan masa depan mereka.

Dari sisi mata uang, tekanan dari kebijakan moneter AS serta gelombang aksi ambil untung setelah kenaikan yang panas telah mendorong emas ke dalam koreksi jangka pendek sebelum kemudian menetapkan tren baru. Emas biasanya bergerak berbanding terbalik dengan dolar AS: ketika dolar melemah, harga emas cenderung naik tajam, dan sebaliknya. Pasar logam mulia juga mengalami volatilitas yang signifikan belakangan ini.

Secara global, Asia telah muncul sebagai penerima FDI terbesar di dunia senilai US$644 miliar, sementara Asia Tenggara menyalip Asia Timur sebagai tujuan sub-regional terbesarnya, dan India mencatat peningkatan yang mengesankan sebesar 44% menjadi US$39 miliar. Investasi ke ekonomi-ekonomi Asia terkonsentrasi pada peningkatan industri, transformasi digital, dan investasi hijau, sehingga ketiganya menjadi penggerak utama dari siklus investasi baru.

Meski demikian, sementara arus FDI global telah pulih, prospek untuk tahun 2026 masih belum pasti mengingat ketegangan geopolitik, konflik, biaya modal yang tinggi, ketidakstabilan kebijakan perdagangan, dan fragmentasi ekonomi.