Mengenal seorang teman, bos warung sembako kecil di rumah, usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Tokonya berada di kawasan permukiman padat di tengah kota. Waktu beberapa tahun lalu, sekitar waktu itu, di warungnya ada tambahan satu unit komputer bekas—setiap hari dibiarkan begitu saja, menampilkan garis-garis merah-hijau. Kutanya dia, “Kamu bisa membacanya?” Dia bilang tidak bisa, yang mengajari anaknya.
Aksi dia ini—begini. Modalnya hanya beberapa ribu. Uang receh harian, uang kembalian, dan uang dari jualan air serta rokok—kalau ada waktu, semuanya ditukar jadi koin, dibeli sedikit-sedikit, puluhan sampai ratusan. Itu sekadar ide yang datang dari uang les anaknya, semacam biaya kelas minat. Jadi dia tidak pernah menjual. Saat puncaknya, nilai buku sampai enam digit, untung mengambang, dan dia terus menggenggamnya tanpa jual. Baru sampai sekarang, setelah Lebaran Cap Go Meh, setelah Hari Raya Duanwu—tepatnya usai itu—di warungnya masuk kiriman minuman cola. Dari situ baru dia sadar: ternyata dari dulu sudah waktunya untuk keluar—karena beberapa puluh ribu sudah berubah jadi sekitar dua puluh sekian puluh ribu.
Yang paling hebat: dari awal sampai akhir, dia sendiri juga tidak bisa menjelaskan beli apa. Setiap kali yang ada, kami—para penonton—ramai-ramai membujuk dia, tapi dia tidak membeli. Dia bilang, “Tunggu naik sampai berapa-berapa, nanti uangnya dikeluarkan untuk bayar biaya sekolah anak.” Hasilnya kebetulan sekali—uangnya yang tersangkut sampai sekarang, jumlahnya “pas banget” untuk nominal biaya sekolahnya. Menurutmu dia untung atau tidak untung? Dia malah senang sendiri, bilang uang ini cepat atau lambat pasti buat anaknya sekolah; entah disebut “pengembalian virtual” atau “emas sungguhan,” yang penting.
Belakangan, di layar monitor komputer lama bekas yang didaur ulang, ada bekas cairan disinfektan yang tumpah. Dia sendiri membolak-baliknya selama dua bulan tapi juga tidak tahu sedang membuka akun/posisi apa. Selesai sampai sini ceritanya. Yang paling mirip “orang luar” yang pernah kutemui justru orang-orang seperti ini—kedengarannya bikin kesal, tapi pada akhirnya memang absurd sedemikian nyata. Di sekitar kamu ada beberapa orang yang bukan tipe suka trading koin? Diam-diam saja muncul sendiri. Mau cerita?”
#币圈故事 #人间清醒
Aksi dia ini—begini. Modalnya hanya beberapa ribu. Uang receh harian, uang kembalian, dan uang dari jualan air serta rokok—kalau ada waktu, semuanya ditukar jadi koin, dibeli sedikit-sedikit, puluhan sampai ratusan. Itu sekadar ide yang datang dari uang les anaknya, semacam biaya kelas minat. Jadi dia tidak pernah menjual. Saat puncaknya, nilai buku sampai enam digit, untung mengambang, dan dia terus menggenggamnya tanpa jual. Baru sampai sekarang, setelah Lebaran Cap Go Meh, setelah Hari Raya Duanwu—tepatnya usai itu—di warungnya masuk kiriman minuman cola. Dari situ baru dia sadar: ternyata dari dulu sudah waktunya untuk keluar—karena beberapa puluh ribu sudah berubah jadi sekitar dua puluh sekian puluh ribu.
Yang paling hebat: dari awal sampai akhir, dia sendiri juga tidak bisa menjelaskan beli apa. Setiap kali yang ada, kami—para penonton—ramai-ramai membujuk dia, tapi dia tidak membeli. Dia bilang, “Tunggu naik sampai berapa-berapa, nanti uangnya dikeluarkan untuk bayar biaya sekolah anak.” Hasilnya kebetulan sekali—uangnya yang tersangkut sampai sekarang, jumlahnya “pas banget” untuk nominal biaya sekolahnya. Menurutmu dia untung atau tidak untung? Dia malah senang sendiri, bilang uang ini cepat atau lambat pasti buat anaknya sekolah; entah disebut “pengembalian virtual” atau “emas sungguhan,” yang penting.
Belakangan, di layar monitor komputer lama bekas yang didaur ulang, ada bekas cairan disinfektan yang tumpah. Dia sendiri membolak-baliknya selama dua bulan tapi juga tidak tahu sedang membuka akun/posisi apa. Selesai sampai sini ceritanya. Yang paling mirip “orang luar” yang pernah kutemui justru orang-orang seperti ini—kedengarannya bikin kesal, tapi pada akhirnya memang absurd sedemikian nyata. Di sekitar kamu ada beberapa orang yang bukan tipe suka trading koin? Diam-diam saja muncul sendiri. Mau cerita?”
#币圈故事 #人间清醒