1. Pasar Ekuitas Asia: Dibuka Melemah, Dipimpin oleh KOSPI dan Nikkei 225

Sesi Pagi: Pasar saham Asia-Pasifik sebagian besar dibuka di zona merah pada Kamis pagi. Penurunan dipimpin oleh KOSPI (-4,5%), Nikkei 225 (-1,85%), dan TAIEX (-1,07%).

Sentimen Wall Street & Kinerja Korporasi: Kelemahan di wilayah tersebut terjadi meskipun DJIA di Wall Street sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan malam, sementara S&P 500 dan NASDAQ mengakhiri kemenangan beruntun empat hari. Investor di kawasan tersebut merespons kombinasi rilis kinerja dari raksasa teknologi global seperti SpaceX dan AMD, di tengah aksi ambil untung setelah reli tajam sebelumnya di sektor teknologi regional.

2. Geopolitik & Energi: Proposal untuk Membuka Kembali Selat Hormuz Membebani Harga Minyak

Draf Kerangka Selat Hormuz: Qatar mengonfirmasi bahwa draf kerangka yang diusulkan antara AS dan Iran telah disusun untuk membuka kembali Selat Hormuz—rute logistik penting yang melaluinya sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Rencana Pembersihan Tambang: Dilaporkan Iran mempertimbangkan opsi untuk memungkinkan negara-negara Eropa mengangkat ranjau laut di kawasan tersebut. Prospek pemulihan navigasi telah mendorong penurunan bertahap harga minyak mentah selama beberapa sesi terakhir.

3. Kebijakan Moneter & Sikap The Fed yang Lebih Hawkish vs Penyerapan Tenaga Kerja yang Melambat

Pernyataan Pejabat The Fed:

Jeff Schmid (Presiden Federal Reserve Kansas City): Menekankan pentingnya mempertahankan pengetatan moneter untuk mengembalikan inflasi ke target 2,0%.

Lisa Cook (Gubernur The Fed): Menyatakan kesediaan untuk mendukung kenaikan suku bunga lainnya kecuali ada bukti disinflasi yang berkelanjutan.

Perubahan Ketenagakerjaan ADP (Juli 2026): Sektor swasta AS hanya menambah 44.000 pekerjaan pada Juli—tingkat terendah penciptaan lapangan kerja dalam enam bulan. Angka ini melambat signifikan dari Juni (95.000) dan jatuh di bawah perkiraan konsensus pasar (70.000), yang menunjukkan pasar tenaga kerja AS yang mulai mendingin.

4. Pasar Komoditas: Emas Melonjak Hampir 4% Dipacu Arus Masuk Modal dari Tiongkok

Kombinasi Pemicu Makro: Harga futures emas melonjak hampir +4,0%, didukung oleh melemahnya Indeks Dolar AS (USD) dan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun yang lebih rendah.

Arus Masuk ke ETF Tiongkok: Selain imbal hasil obligasi yang lebih rendah, kenaikan harga emas juga diperkuat oleh pembelian besar-besaran dari investor Tiongkok. Data Bloomberg menunjukkan ETF Emas di Tiongkok mencatat arus masuk bersih selama 14 hari perdagangan berturut-turut—akumulasi terpanjang sejak Maret.