Ada masalah, apa kalian sudah sadar? Di kota, susah sekali menemukan toko yang menjual nasi goreng.

Bulan lalu di Tokyo, di sebuah warung kecil pinggir jalan, aku membuka menu pakai Google Translate: ada nasi goreng kepiting, ada nasi goreng udang—rasanya benar-benar mantap.

Tukang masaknya seorang kakek. Kepalanya dibalut seutas kain untuk menahan keringat. Dengan mengangkat wajan besar, dia mengaduknya dengan cepat dan mantap. Butiran nasi putihnya jelas. Saat diangkat, ditaburi daun bawang—benar-benar lezatnya luar biasa.

Aku benar-benar makan sampai 2 hari berturut-turut; setiap suapan membuatku girang, mulutku penuh nasi.

Bahkan Michelin, omakase pun tak bisa menandingi rasa nasi goreng yang dibuat langsung di warung pinggir jalan itu.

Jangan marah ya. Aku bukan tipe yang mengagungkan budaya luar. Aku sedang memikirkan satu pemikiran bisnis.

Kenapa aku sulit menemukan nasi goreng saat makan siang kerja di kota-kota di daratan? Aku pikir lama, dan tebak jawabannya.

🔹 Mungkin karena efisiensi—karena persaingan yang mengejar kecepatan dan menekan biaya sampai titik ekstrem.

Di pusat kota, banyak restoran di mal menggunakan makanan siap pakai. Dapur pusat membuat semuanya secara seragam untuk menurunkan biaya. Di gerai, dapur belakang hanya bertugas memanaskan, supaya waktu penyajian lebih cepat. Biaya ditekan serendah mungkin.

Tapi, dengan efisiensi yang ekstrem seperti itu, rasanya tidak lagi enak.

Aku jadi rindu dulu saat masih sekolah. Waktu masuk ke warung-warung kecil di dekat kampus, semua macam makanan enak dimasak langsung.

Kembali ke hari-hari yang sederhana—melihat awan bergulung dan berhembus pelan, menjalani hidup yang tidak terburu-buru—rasanya juga cukup baik.