Setelah membaca bagaimana Guru Baoyu @dotey merangkai metode belajar Feynman menjadi sebuah siklus, saya menyadari bahwa alur pembuatan konten yang belakangan saya utak-atik sebenarnya juga melakukan hal yang sama. Bedanya, di tengah proses ada AI dan tahap menyampaikan secara lisan.

Dulu alur saya sederhana: punya ide, minta AI menyusunnya, lalu saya ubah beberapa kalimat dan langsung menerbitkannya. Efisien sekali. Namun belakangan muncul satu masalah yang jelas: kontennya memang lengkap, tetapi rasanya tidak seperti ditulis oleh manusia.

Apalagi setelah AI langsung merapikan hasil penuturan lisan. Judul, poin-poin, dan kesimpulan memang sudah ada, tetapi urutan bicara, jeda, serta penilaian spontan yang muncul begitu saja—nada dan emosi yang paling manusiawi—mudah terhapus.

Jadi, saya mengubah alurnya menjadi siklus tertutup:

1. Ide atau masalah nyata — harus sesuatu yang benar-benar saya rasakan atau memang saya butuhkan: hal yang sedang saya keluarkan uang untuk itu, jebakan yang membuang waktu, atau sesuatu yang membuat saya buntu.
2. Uji melalui praktik — lakukan dulu, catat prosesnya, baru minta AI merapikannya.
3. Revisi lewat penuturan lisan — sampaikan dengan bahasa sendiri, kembalikan bahasa manusia ke dalamnya.
4. Terbitkan di berbagai platform
5. Umpan balik — komentar dan pertanyaan masuk ke putaran berikutnya, membentuk siklus tertutup.

Seperti inilah siklus Feynman dalam produksi konten: bukan “belajar dulu baru menyampaikan”, melainkan menyampaikan sesuatu yang mendorongmu untuk benar-benar memahaminya. Yang ditambahkan di tengah hanyalah AI untuk merapikan, sementara penuturan lisan memastikan manusia tetap hadir dalam prosesnya.

Tulisan saya beberapa hari lalu tentang uji coba Codex untuk mengendalikan ChatGPT Pro adalah hasil dari siklus ini, bukan tambahan petuah yang disisipkan begitu saja.

Sebelumnya saya lupa mengambil tangkapan layar. Agar kontennya benar-benar kokoh, saya harus mengulang seluruh proses dan melengkapi tangkapan layarnya. Dalam proses verifikasi ulang ini, penilaian saya tentang hal tersebut juga menjadi lebih jelas.

Menulis bukan sekadar mencatat hasil. Menulis akan mendorongmu untuk mempraktikkan, memverifikasi, dan melengkapi bukti—serta menyadari apakah kamu benar-benar sudah memahaminya.

Dalam alur ini:

AI bertugas merapikan informasi, meringkas pengulangan, dan menyesuaikan konten untuk tiap platform
Manusia bertanggung jawab atas pengalaman nyata, penilaian akhir, dan sentuhan personal

Setelah AI memberikan draf, saya akan membacanya sampai tuntas. Kalau menurutmu kontennya terdengar seperti tulisan AI, coba baca keras-keras—kamu akan langsung tahu bagian mana yang terasa janggal dan mana yang sebenarnya tidak akan pernah kamu ucapkan.

Saran kecil: masukkan kembali transkripsi penuturan lisan ke AI, dan minta AI hanya membantu merapikan alur serta mengoreksi kesalahan. Jangan biarkan AI menambahkan pendapat atau memaksakan kesimpulan yang muluk.

Ini bukan berarti membuat proses menulis jadi lebih rumit.
Ini adalah cara memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi tanpa menghapus bagian paling khas dari dirimu.