Orang miskin, lalu pergi membaca lagi, pada dasarnya itu tinggal menunggu mati.

Kamu miskin sampai berdering-dering, saldo di rekening tinggal angka belasan, sewa dan tagihan air-listrik mengejar kamu, tapi kamu masih duduk di sana membaca, mencatat, screenshot, menyimpan.

Kamu bukan sedang belajar, kamu sedang mencari cara yang lebih berwibawa untuk membenarkan ketidakmampuanmu.

Bicara terus terang yang agak pedas: buku orang miskin, semakin banyak dibaca, semakin mudah jadi rusak…