Di sela-sela waktu akhir pekan untuk mengecek data, saya sempat melirik order book. Khawatir—indeks “takut” sudah 27. Di alun-alun, lagi-lagi mulai diputar slogan: “Ketakutan adalah peluang.” Saya sebelumnya sudah bilang, saat ketakutan yang benar-benar nyata terjadi, tidak ada yang bicara. Tapi suasana ramai seperti ini—mana mirip dengan ketakutan.

Balik lagi, mari lihat datanya: long dalam 24 jam meledakkan 160 juta dolar, sedangkan short baru meledakkan 40 juta dolar—rasio 4 berbanding 1. Semua orang teriak buat “mengambil posisi di titik bawah” (buy the dip). Hasilnya, yang tertimbun justru long semua. Ini artinya apa? Artinya orang yang menyerukan buy the dip itu sendiri adalah stok yang akhirnya “ter-cancel” (di-burst). Mereka belanja di harga tinggi; makin menambah, makin rugi. Sama persis seperti saya di tahun 2022 menimbun jaket musim dingin sampai tanggung—bukan barangnya yang jelek, tapi waktunya yang tidak tepat.

Long ETH meledak 68 juta dolar, sementara short hanya 5,2 juta dolar. Pesanan spot saya dengan harga rata-rata 1550 masih bertahan—artinya saya masih “menahan” sekelompok basic model dengan margin laba yang cukup oke, jadi untuk sementara tidak panik. Tapi di posisi sekarang, apakah masih layak untuk menambah? Lebih baik hitung dulu. Menurut saya, ketakutan yang benar-benar datang belum terjadi. Saat itu datang, alun-alun akan terasa senyap seperti gudang pada pukul tiga dini hari.