Jepang terjebak dalam situasi sulit

Yen menyentuh titik terendah 40 tahun: Nilai tukar USD/JPY menembus batas 163. Inflasi dan harga minyak meningkat tajam akibat konflik Iran, yang membuat ekonomi Jepang mengalami kerusakan serius.

Wajib mempertahankan suku bunga rendah: Karena utang pemerintah terlalu besar (mendekati 250% PDB), Jepang tidak bisa menaikkan suku bunga secara signifikan karena takut gagal bayar.

Campur tangan sendirian kehabisan tenaga: Jepang telah menggelontorkan rekor puluhan miliar USD untuk membeli Yen/menjual USD sendiri, namun pasar dengan cepat membalikkan upaya tersebut.

AS langsung turun tangan. Bank Sentral AS New York, atas perintah Kementerian Keuangan AS (di bawah arahan Menteri Scott Bessent), telah melakukan Rate Check—langkah uji harga terakhir tepat sebelum menyalurkan dana untuk intervensi langsung.

Gelombang intervensi bersama: Terakhir kali AS bertindak bersama Jepang untuk membeli Yen/menjual USD adalah pada tahun 1998.

Mengapa AS harus menyelamatkan Yen?

AS bertindak bukan karena kebaikan hati kepada Jepang, melainkan untuk melindungi perekonomian AS sendiri dari 2 risiko ini:

Mencegah terjadinya gangguan pada pasar Obligasi AS: AS bersiap menerbitkan utang baru senilai 10.000 miliar USD tahun ini. Jepang adalah kreditor terbesar (memegang 1.200 miliar USD). Jika nilai Yen terlalu lemah memaksa Jepang menjual paksa obligasi AS untuk menarik dana, biaya utang AS akan melonjak tajam.

Risiko pecahnya skema "Yen Carry Trade": Banyak sekali dana besar meminjam Yen dengan harga murah untuk berinvestasi pada saham AS. Jika kurs atau suku bunga berubah terlalu ekstrem, dana-dana ini akan melakukan penjualan panik atas saham AS untuk membayar utang Yen.

Dampak segera terhadap pasar

Saham AS menguap: Pasar bereaksi negatif di tengah kekhawatiran adanya unwind arus modal yen carry trade (Indeks S&P 500 turun 1,2%, kehilangan kapitalisasi senilai 995 miliar USD dalam 40 menit).

Dampak jangka panjang: Kurs dan arus dana global kini berada di bawah pengaruh bersama Washington dan Tokyo, bukan lagi dibiarkan agar Jepang menanggungnya sendirian.

Jepang tidak bisa menyelamatkan Yen sendirian dengan menaikkan suku bunga karena takut gagal bayar utang pemerintah; AS terpaksa turun tangan mengintervensi dengan membeli Yen Jepang bersama Tokyo untuk melindungi pasar obligasi dan saham miliknya sendiri.