Pelan-pelan sadar, hidup ternyata adalah proses “sudah, biar saja”.
Dulu kupikir, bertumbuh itu seperti menambah—harus mengenal banyak orang hebat, harus punya banyak label dan prestasi.
Sekarang baru paham, kedewasaan yang sejati itu seperti mengurangi: belajar untuk pada banyak hal berkata, “sudah, biar saja”.
Bukan menyerah, bukan pula pengecut. Tapi akhirnya mengerti—ada beberapa jalan yang memang tak akan sampai, ada beberapa orang yang memang hanya lewat, ada beberapa keterikatan yang memang harus dilepas.
Kita selalu sibuk mengkritik saat momen yang paling seharusnya dihargai sedang datang. Lalu setelah kehilangan, barulah sibuk menyesal.
Padahal, seberapa pun kamu merencanakannya dengan cermat, hidup tetap akan berakhir dengan konsekuensi yang tak terduga. Bahkan kalau mengulang dari awal pun, dengan pola pikir dan pengalaman saat itu, kemungkinan besar kamu akan memilih hal yang sama.
Jadi, jangan terjebak keluar-masuk kenangan. Menengok ke belakang itu menyisakan penyesalan; melangkah ke depan itulah hidup.
Hal-hal yang dulu membuatmu begitu tersiksa suatu hari nanti, kamu akan bisa menceritakannya sambil tertawa.
Klik like, untuk dirimu yang dulu terjatuh-bangun di sepanjang jalan, tapi tidak pernah benar-benar menyerah.