Antara tahun 2017 dan 2018, sebuah subkultur khusus yang dikenal sebagai "Bitcoin Carnivores" muncul di dalam komunitas kripto. Kelompok ini terutama terdiri dari para maksimalis Bitcoin yang berpendapat bahwa prinsip-prinsip disiplin dan "kekuatan" yang sama berlaku baik dalam bidang keuangan maupun kesehatan pribadi.

Tokoh-tokoh terkemuka di bidang ini, seperti Michael Goldstein dan Saifedean Ammous, mulai mempromosikan gagasan bahwa mata uang fiat berfungsi sebagai "racun" bagi ekonomi global dengan mendorong utang dan inflasi. Mereka membuat perbandingan langsung dengan pola makan modern, dengan mengklaim bahwa makanan olahan, minyak biji, dan karbohidrat merupakan ekivalen biologis dari uang fiat, yang tidak alami dan berbahaya bagi tubuh manusia seiring waktu.

Anggota gerakan ini menerapkan diet ketat "nol karbohidrat" atau diet karnivora, yang terdiri hampir secara eksklusif dari daging merah dan air. Logikanya berakar pada keinginan akan otonomi penuh; sebagaimana Bitcoin memungkinkan mereka keluar dari sistem perbankan tradisional, diet karnivora dipandang sebagai cara untuk keluar dari sistem makanan industri.

Pilihan gaya hidup ini menjadi simbol identitas di kalangan Bitcoiner yang paling keras. Sangat umum bagi peserta untuk memposting foto steak besar di media sosial sambil membahas batas ukuran blok atau kebijakan moneter. Mereka percaya bahwa dengan menghilangkan makanan yang "inflasi" dari pola makan mereka, mereka dapat mencapai kewaspadaan mental yang lebih baik dan kesehatan jangka panjang, menyerupai strategi investasi jangka panjang "HODL" yang mereka terapkan pada aset Bitcoin mereka.

Meskipun puncak tren ini paling terlihat selama siklus pasar 2017-2018, hubungan antara Bitcoin dan diet karnivora tetap bertahan. Gerakan ini menetapkan stereotip yang berkelanjutan tentang "Bitcoiner keras" sebagai seseorang yang menerapkan pendekatan minimalis dan skeptis terhadap rekening bank maupun piring makan mereka.