Aku memaki Bitcoin selama tiga tahun, “selain trading, tidak ada yang bisa dilakukan”—sekarang wajahku agak perih
Katakan hal memalukan: ada masa ketika aku terus bilang ke orang-orang bahwa narasi Bitcoin sebagai “emas digital” itu cuma selubung penutup—selain ditimbun sambil menunggu naik, untuk apa lagi sih?
Teman bilang balik, “Lightning Network bisa dipakai buat pembayaran.” Aku nyaut, “WhatsApp? PayPal? TikTok—enggak, maksudku, bukankah itu semua lebih enak, ya?” Lagi pula ada yang bilang Bitcoin paling aman, aku cuma melongo sinis: “Kalau aman, buat apa? Aman nggak bisa jadi lauk makan?”
Tapi dua hari ini, aku dapat pelajaran dari Babylon.
Di sisi Lightning Network, sekarang aku benar-benar pakai uang sungguhan. Bulan lalu aku ke Hong Kong untuk dinas; sebuah kafe menempelkan stiker “mendukung pembayaran via Lightning.” Aku pindai, dan dana masuk dalam dua detik, biaya jasanya nyaris nol. Pada momen itu aku tiba-tiba paham—bukan Bitcoin tidak bisa dipakai bayar, tapi aku sendiri belum benar-benar mencoba.
Namun yang benar-benar membuat wajahku perih adalah Babylon. Ia membuat Bitcoin melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas di kepalaku: mengubah “keamanan” yang tadi kubicarakan jadi komoditas yang dijual. Rantai PoS butuh pengesahan kredibilitas? Oke, Bitcoin boleh jadi penyangganya, tapi harus “disetor” uang sungguhan—kalau berulah, aset akan disita. Aku seorang holder, koinnya cuma ngendap di dompet, tapi aku juga ikut memperoleh bagian dari pendapatan layanan keamanan.
Lightning Network membuat Bitcoin berubah dari batangan emas menjadi uang tunai, sedangkan Babylon membuat Bitcoin naik kelas jadi perusahaan asuransi. Yang satu mesin pembayaran, yang satu mesin keamanan—dan tiba-tiba Bitcoin punya dua kaki: dari yang cuma bisa “ditimbun” jadi bisa “berjalan juga bisa menghasilkan.”
Ucapan-ucapan yang dulu kubilang karena menganggapnya tidak berguna, sekarang kalau dipikir lagi ternyata aku yang kurang melihat. Bitcoin bukan tidak berguna—tapi kegunaannya baru saja mulai dibongkar dan dipahami.
#baby $BABY @BabylonLabs_io
Katakan hal memalukan: ada masa ketika aku terus bilang ke orang-orang bahwa narasi Bitcoin sebagai “emas digital” itu cuma selubung penutup—selain ditimbun sambil menunggu naik, untuk apa lagi sih?
Teman bilang balik, “Lightning Network bisa dipakai buat pembayaran.” Aku nyaut, “WhatsApp? PayPal? TikTok—enggak, maksudku, bukankah itu semua lebih enak, ya?” Lagi pula ada yang bilang Bitcoin paling aman, aku cuma melongo sinis: “Kalau aman, buat apa? Aman nggak bisa jadi lauk makan?”
Tapi dua hari ini, aku dapat pelajaran dari Babylon.
Di sisi Lightning Network, sekarang aku benar-benar pakai uang sungguhan. Bulan lalu aku ke Hong Kong untuk dinas; sebuah kafe menempelkan stiker “mendukung pembayaran via Lightning.” Aku pindai, dan dana masuk dalam dua detik, biaya jasanya nyaris nol. Pada momen itu aku tiba-tiba paham—bukan Bitcoin tidak bisa dipakai bayar, tapi aku sendiri belum benar-benar mencoba.
Namun yang benar-benar membuat wajahku perih adalah Babylon. Ia membuat Bitcoin melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas di kepalaku: mengubah “keamanan” yang tadi kubicarakan jadi komoditas yang dijual. Rantai PoS butuh pengesahan kredibilitas? Oke, Bitcoin boleh jadi penyangganya, tapi harus “disetor” uang sungguhan—kalau berulah, aset akan disita. Aku seorang holder, koinnya cuma ngendap di dompet, tapi aku juga ikut memperoleh bagian dari pendapatan layanan keamanan.
Lightning Network membuat Bitcoin berubah dari batangan emas menjadi uang tunai, sedangkan Babylon membuat Bitcoin naik kelas jadi perusahaan asuransi. Yang satu mesin pembayaran, yang satu mesin keamanan—dan tiba-tiba Bitcoin punya dua kaki: dari yang cuma bisa “ditimbun” jadi bisa “berjalan juga bisa menghasilkan.”
Ucapan-ucapan yang dulu kubilang karena menganggapnya tidak berguna, sekarang kalau dipikir lagi ternyata aku yang kurang melihat. Bitcoin bukan tidak berguna—tapi kegunaannya baru saja mulai dibongkar dan dipahami.
#baby $BABY @BabylonLabs_io
