Siang itu, Direktur Teknologi perusahaan, Lao Wang, datang ke kantor untuk pamer dan mengobrol santai. Saat membahas proyek Babylon Genesis, dia bilang saya bisa menelusuri lebih dalam. Maka malamnya saya pulang dan membaca ulang whitepaper Babylon. Begitu saya sampai pada bagian “dual staking”, jari saya sempat berhenti di atas keyboard.

Proyek ini memang punya sesuatu. Keamanan ditentukan oleh mekanisme dual staking: 100 validator yang mengunci BABY + 60 penyedia finalitas yang mengunci BTC memberikan finalitas. Pemegang bitcoin tidak perlu melakukan bridging untuk mendelegasikan BTC guna mendapatkan hak suara. TVL sekitar 3 miliar dolar AS, sudah mengakumulasi lebih dari 55.000 BTC. Gagasan desainnya benar-benar pantas dengan label “jaringan keamanan berbasis Bitcoin”.

Tapi setelah saya membongkar logika dual staking, masalahnya mulai muncul.

Pemegang BTC mendelegasikan bitcoin kepada penyedia finalitas. Lalu 100 validator + 60 FP melakukan voting secara paralel. “Giant whale” bisa mengumpulkan BTC dalam jumlah besar dan mendelegasikannya semuanya ke satu FP saja. Jika sebuah FP mengumpulkan volume delegasi yang cukup, ia bisa menguasai proporsi hak suara yang signifikan. Bobot ditentukan bersama oleh jumlah staking BABY dan jumlah staking BTC, tetapi tidak ada batasan penyebaran yang ketat untuk delegasi BTC. Beberapa FP milik beberapa whale besar yang berkolusi pun dapat membuat peninjauan blok (block review) dan rollback yang bersifat jahat bukanlah hal yang mustahil.

Yang lebih tidak meyakinkan adalah pergantian epoch. Perubahan set validator baru diproses dengan penundaan hingga batas epoch, yang melibatkan rotasi kunci, snapshot status staking, serta sinkronisasi parameter pengurangan (slashing). Laporan audit mengungkap: ketika validator dipotong (slashed) di tengah epoch, penurunan hak suara tidak langsung tercermin ke snapshot, dan baru berlaku pada epoch berikutnya. Validator yang sudah dislashed akibat perilaku jahat tetap memiliki hak suara penuh selama sisa epoch, dan masih bisa ikut serta dalam penandatanganan (signing) untuk checkpoint.

Celakaan pada ekstensinya voting BLS memungkinkan validator berbuat jahat untuk mengabaikan field hash blok saat konversi epoch, yang memicu validator crash dan menurunkan throughput jaringan. Ketidakselarasan sinkronisasi dapat menyebabkan kekacauan status aset staking, salah menilai node jahat atau melakukan eksekusi perampasan aset yang keliru.

Mengelem hak suara 100 validator dan 60 FP menjadi satu kesatuan memang terasa inovatif. Namun, delegasi terpusat oleh whale, penundaan berlakunya slashing, dan halt pada batas epoch—tiga risiko saling tumpang tindih. Jika salah satu saja terpicu, konsensus seluruh rantai bisa saja macet.

Uraian di atas hanya pandangan pribadi dan bukan merupakan nasihat investasi. Menurut Anda, konsentrasi hak suara dari delegasi BTC pada akhirnya akan bergerak menuju desentralisasi atau oligarki? Silakan diskusikan di kolom komentar.
#baby $BABY @BabylonLabs_io