Perang ini sudah berlangsung 5 bulan dan belum juga berhenti, Trump mulai panik
Ia awalnya mengira “hanya perlu beberapa minggu untuk beres”, tetapi sekarang bukan hanya tidak berhenti, malah sudah memasuki bulan ke-5. Ia menjadi “semakin tidak sabar”.
“Mode balas dendam” sudah dimulai
The Wall Street Journal mengutip pejabat yang mengetahui situasi tersebut: dalam sebuah rapat di Kantor Oval, Trump langsung memaki pemimpin Iran. Seorang pejabat tinggi mengatakan bahwa Trump sudah masuk ke “mode balas dendam”, menganggap bahwa Iran “hanya memahami kekuatan”. Selain terus melakukan pemboman, ia “tidak yakin ada banyak opsi bagus yang bisa dipilih”. Trump sendiri juga memberi isyarat: “Saya sedang mempertimbangkan serangan skala besar, yang lebih ganas dari sebelumnya.”
Tiga gunung besar menekannya
Pertama, Amerika sendiri sudah lebih dulu berdarah. Sejak perang dimulai pada akhir Februari, sudah ada 18 tentara AS yang tewas. Trump awalnya berniat menjalankan “perang terbatas yang terkendali”, tapi pada akhirnya justru kehilangan 18 nyawa lebih dulu.
Kedua, harga minyak sudah melonjak sampai tidak lagi tertahankan oleh masyarakat. Minyak mentah Brent menembus lebih dari 100 dolar AS per barel pada pekan ini, dan harga bensin AS ikut melesat. Di internal Gedung Putih, sudah ada rapat untuk membahas cara menekan harga minyak sebelum pemilihan paruh waktu. Semakin lama perang berlangsung, semakin tinggi harga minyak, dan semakin berbahaya pula bagi suara pemilih.
Ketiga, Iran sama sekali tidak mau menerima. Iran baru saja menolak rencana terbaru gencatan senjata yang diserahkan oleh perdana menteri Irak, dengan alasan—rencana itu “tidak menangani masalah kendali Selat Hormuz”. Perbedaan utama kedua belah pihak sampai sekarang belum terselesaikan, sehingga perang tidak menemukan jalan keluar.
Artinya bagi pasar apa?
Sekarang Trump berada dalam posisi serba salah—mundur adalah bencana politik, sedangkan eskalasi adalah risiko yang lebih besar. Brent sudah menembus angka tiga digit; Trump mengenakan tarif tambahan kepada 60 perekonomian, dan tekanan ganda ini sedang mendorong ekspektasi inflasi. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik hingga 4,66%, membuat aset berisiko tetap tertekan.
Perang ini dalam jangka pendek sulit dihentikan, harga minyak pun kemungkinan besar tidak mudah turun, dan aset berisiko sulit untuk naik. Bagi yang ingin long, tunggu sinyal yang jelas; bagi yang ingin short, jangan bertaruh pada puncak di harga minyak 100 dolar.
#美军向闯伊朗封锁油轮开火 #布伦特原油突破100美元
$BTC $CL $SNDK
Ia awalnya mengira “hanya perlu beberapa minggu untuk beres”, tetapi sekarang bukan hanya tidak berhenti, malah sudah memasuki bulan ke-5. Ia menjadi “semakin tidak sabar”.
“Mode balas dendam” sudah dimulai
The Wall Street Journal mengutip pejabat yang mengetahui situasi tersebut: dalam sebuah rapat di Kantor Oval, Trump langsung memaki pemimpin Iran. Seorang pejabat tinggi mengatakan bahwa Trump sudah masuk ke “mode balas dendam”, menganggap bahwa Iran “hanya memahami kekuatan”. Selain terus melakukan pemboman, ia “tidak yakin ada banyak opsi bagus yang bisa dipilih”. Trump sendiri juga memberi isyarat: “Saya sedang mempertimbangkan serangan skala besar, yang lebih ganas dari sebelumnya.”
Tiga gunung besar menekannya
Pertama, Amerika sendiri sudah lebih dulu berdarah. Sejak perang dimulai pada akhir Februari, sudah ada 18 tentara AS yang tewas. Trump awalnya berniat menjalankan “perang terbatas yang terkendali”, tapi pada akhirnya justru kehilangan 18 nyawa lebih dulu.
Kedua, harga minyak sudah melonjak sampai tidak lagi tertahankan oleh masyarakat. Minyak mentah Brent menembus lebih dari 100 dolar AS per barel pada pekan ini, dan harga bensin AS ikut melesat. Di internal Gedung Putih, sudah ada rapat untuk membahas cara menekan harga minyak sebelum pemilihan paruh waktu. Semakin lama perang berlangsung, semakin tinggi harga minyak, dan semakin berbahaya pula bagi suara pemilih.
Ketiga, Iran sama sekali tidak mau menerima. Iran baru saja menolak rencana terbaru gencatan senjata yang diserahkan oleh perdana menteri Irak, dengan alasan—rencana itu “tidak menangani masalah kendali Selat Hormuz”. Perbedaan utama kedua belah pihak sampai sekarang belum terselesaikan, sehingga perang tidak menemukan jalan keluar.
Artinya bagi pasar apa?
Sekarang Trump berada dalam posisi serba salah—mundur adalah bencana politik, sedangkan eskalasi adalah risiko yang lebih besar. Brent sudah menembus angka tiga digit; Trump mengenakan tarif tambahan kepada 60 perekonomian, dan tekanan ganda ini sedang mendorong ekspektasi inflasi. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik hingga 4,66%, membuat aset berisiko tetap tertekan.
Perang ini dalam jangka pendek sulit dihentikan, harga minyak pun kemungkinan besar tidak mudah turun, dan aset berisiko sulit untuk naik. Bagi yang ingin long, tunggu sinyal yang jelas; bagi yang ingin short, jangan bertaruh pada puncak di harga minyak 100 dolar.
#美军向闯伊朗封锁油轮开火 #布伦特原油突破100美元
$BTC $CL $SNDK