@BabylonLabs_io #baby $BABY

Semakin saya menyaksikan evolusi staking Bitcoin, semakin saya merasa bahwa masalah sesungguhnya bukanlah imbal hasil. Melainkan kepercayaan.

Kebanyakan sistem pada akhirnya meminta pengguna untuk menyerahkan kendali kepada pihak lain sebagai imbalan demi kenyamanan. Asumsi yang selalu sama: orang-orang akan menukar sedikit keamanan demi sedikit efisiensi. Kadang mereka melakukannya. Sampai suatu saat sesuatu rusak.

Yang sering luput diperhatikan adalah bahwa keamanan bukan hanya soal mencegah serangan. Keamanan juga tentang mengurangi jumlah izin yang bisa gagal. Setiap perantara tambahan, kustodian, atau pihak tepercaya menjadi titik lain di mana insentif dapat menjauh dari pengguna.

Inilah mengapa Babylon menarik perhatian saya.

Gagasan menariknya bukan sekadar menggunakan BTC untuk membantu mengamankan jaringan PoS. Ini adalah upaya melakukannya tanpa mengharuskan pengguna melepaskan kepemilikan (custody) Bitcoin mereka. Itu mencerminkan filosofi yang berbeda: memperkuat koordinasi tanpa memperluas asumsi kepercayaan.

Dalam praktiknya, kegagalan tersulit jarang berupa peretasan dramatis yang semua orang sudah melihat akan terjadi. Lebih sering, kegagalan itu berupa kompromi kecil. Izin tambahan. Lapisan kenyamanan. Ketergantungan yang diam-diam menumpuk dari waktu ke waktu hingga sistem menjadi rapuh.

Proyek-proyek yang paling penting sering kali adalah yang mengajukan pertanyaan sulit tentang di mana kepercayaan itu berada dan siapa yang mengendalikannya.

Karena dalam kripto, keamanan biasanya tidak lenyap begitu saja dalam semalam.

Keamanan terkikis satu asumsi demi satu asumsi.