Bisa dapat “ember emas” pertama di dunia kripto, sampai kapan?

Delapan kata: jangan cari untung kecil, jangan sampai rugi besar. Semua orang paham, tapi yang benar-benar bisa melakukannya tidak banyak.

Aku kasih contoh: aku kenal seseorang, masuk dengan 50.000, begitu naik ke 53.000 dia langsung kabur, untung 6%—senang banget.

Tapi akhirnya harga terus naik sampai 68.000, dan 30% profitnya melayang begitu saja di sela-sela jari.

Dia menepuk dahi sambil bilang, lain kali pasti tahan. Lalu harga turun lagi sampai 50.000, bahkan menyentuh 47.000. Dia pikir kali ini pasti bisa ditahan. Namun pada akhirnya dia tetap tidak kuat, dan akhirnya keluar lewat stop loss.

Kamu lihat, banyak orang seumur hidup berputar di antara “takut ketinggalan (FOMO)” dan “takut penarikan kembali (drawdown)”, tapi tak kunjung bisa keluar.

Cara memecahnya? Dari pengalaman beberapa tahun, idenya adalah memilih koin yang sudah jatuh habis lalu pelan-pelan mulai bangkit; jangan sentuh koin baru; jangan menebak dasar. Mulai dengan bangun basis 10% dulu, tunggu arah pergerakan mulai stabil baru bergerak.

Memang agak lambat, tapi di hati jadi lebih tenang.

Kalau tren sudah muncul, saat ada koreksi tambah lagi 20%-30%.

Aku tidak ikut mengincar titik terendah; tunggu sinyalnya jelas baru masuk.

Kalau biaya lebih tinggi sedikit tidak masalah, lebih baik daripada terjebak di tengah jalan (setengah puncak).

Setelah naik satu gelombang, ambil modal dan setengah profitnya, sisanya biarkan berjalan sendiri.

Kalau sudah sampai garis take profit, jual—tidak peduli nanti harga naik berapa pun. Kalau uang belum benar-benar masuk kantong, itu masih sekadar angka.

Tahun lalu aku membimbing seorang teman. Sebelumnya dia rugi lebih dari 600 ribu, sampai tidak bisa tidur di malam hari. Dengan strategi ini, dalam setengah tahun dia berhasil mengembalikan kerugian yang hilang, bahkan sempat nabung dan menambah mobil Model 3.

Pada hari dia ambil mobil, dia kirim foto ke aku, katanya dulu dia merasa seumur hidup tidak akan pernah bangkit.

Di dunia kripto tidak kekurangan orang pintar, yang kurang adalah orang bodoh yang bisa mengendalikan tangannya.