KURANG DARI 3 BULAN MENJELANG PEMILIHAN POPULARITAS LULA MENINGKAT, PENOLAKAN CAPAI 51%.

Survei terbaru menunjukkan bahwa penolakan (ketidaksetujuan) terhadap Presiden Luiz Inácio Lula da Silva kembali menjadi tinggi setelah tarif tambahan baru sebesar 25% dari AS terhadap produk-produk Brasil. Banyak kalangan pengusaha Brasil menyalahkan pemerintah dan kurangnya dialog dengan pemerintah Amerika mengenai tarif baru yang diterapkan. Faktor-faktor seperti suku bunga tinggi, inflasi di atas batas, dan belanja pemerintah yang tidak terkendali turut berkontribusi pada meningkatnya ketidakpopuleran pemerintah saat ini.

Beberapa hasil survei terbaru menunjukkan:

Quaest (Juli 2026): sekitar 48% tidak menyetujui pemerintahan, angka tertinggi tahun ini menurut lembaga tersebut.

Ipsos-Ipec (Juni 2026): 44% menyetujui pemerintahan, sementara 38% menilai kinerja sebagai buruk atau sangat buruk.

BTG/Nexus (April 2026): 45% menyetujui dan 51% menolak kinerja presiden.

PoderData (Maret 2026): mencatat 61% penolakan, yang merupakan angka tertinggi dalam rangkaian historisnya hingga saat itu.

Terkait alasan utama yang disebut oleh para pemilih yang menolak pencalonan ulang Lula, survei opini dan analisis dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa faktor yang paling sering disebut adalah:

Biaya hidup dan inflasi, terutama harga pangan dan energi.

Persepsi terhadap ekonomi, termasuk pertumbuhan pendapatan, lapangan kerja, dan daya beli.

Keamanan publik dan pemberantasan kejahatan terorganisasi.

Kasus korupsi dan kepercayaan terhadap institusi, isu yang berulang di kalangan pemilih yang kritis terhadap pemerintah.

Polarisasi politik, yang membuat sebagian pemilih menolak presiden karena alasan ideologis, terlepas dari penilaian terhadap kebijakan-kebijakan tertentu.