Kalau kau memelihara seakuarium ikan, maka kau adalah Sang Pencipta bagi ikan-ikan itu. Apakah kau akan peduli karena salah satu ikan hari ini tidak sempat merebut makanan dan malah menjadi depresi di sudut? Apakah kau akan menghentikan perselisihan karena dua ikan saling menggigit berebut wilayah di sekitar bongkahan batu hias palsu itu?
Kau sama sekali tidak peduli. Kesedihan dan kebahagiaan ikan-ikan kecil, intrik dan perebutan perhatian—semuanya tak berarti, hanya menguras energi tanpa guna. Yang kau punya hanyalah satu indikator yang kejam namun makro: air di akuarium ini tidak boleh busuk, dan kelompok ikan ini harus tetap hidup dengan sehat dan bersemangat.
Inilah logika dasar semesta: Dao tidak berperasaan, yang dilihat hanya bagaimana sesuatu bertumbuh dan berkembang.
Lalu jika pada saat itu, di dalam akuarium ada seekor ikan yang tiba-tiba “terbukanya mata batin”, mendapat naskah dari Sang Pencipta—bagaimana cara dia hidup? Dia tidak akan lagi berebut dengan sesamanya demi sisa-sisa yang merusak. Dia akan berenang ke dekat filter untuk membersihkan kotoran, dan akan mengarahkan rombongan ikan agar bergerak untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut.
Begitulah disebut pencerahan.
Saat seekor ikan tidak lagi bertindak sebagai “konsumen” yang berebut, melainkan sebagai “pembangun” yang menjaga kualitas air, bisakah kamu, sebagai Pencipta, menonton ikan yang bernyawa itu mati kelaparan? Tidak mungkin. Kamu bukan hanya tidak akan membiarkannya mati, kamu bahkan akan gila-gilaan membuatkan “hidangan khusus” untuknya, lalu menyalurkan sumber daya terbaik di seluruh akuarium dengan tepat sasaran.
Kenapa? Karena kalau kamu memberi investasi padanya, hasil keuntungan seluruh akuarium jadi yang paling besar. Ia bahkan sudah bukan lagi sekadar seekor ikan—ia adalah “mitra” kamu di dalam akuarium itu.
Begitulah: beroleh banyak penolong, takdir yang berpihak.
Kalau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana caranya seseorang hidup tanpa capek-capek untuk mendapatkan sumber daya level tertinggi?
Intinya hanya satu: naikkan dimensi, lalu ganti sudut pandang menjadi sudut pandang Pencipta.
Tiga langkah secara spesifik:
Langkah pertama: benar-benar hentikan “pola pikir kawanan ikan”.
Jangan lagi begadang karena tersisih di kantor, jangan lagi marah karena rekan-rekan mengambil satu order yang seharusnya jadi milikmu. Kalau kamu terus mengaduk lumpur di tempat itu, kamu akan selalu menjadi orang kelas bawah yang ikut arus. Melompat keluar, dan menonton saja.
Langkah kedua: lakukan tindakan berdimensi tinggi yang “membantu kehidupan”.
Inti ajaran Pencipta adalah empat kata: hidup yang terus berdenyut. Setiap kali kamu akan melakukan sesuatu, tanyakan pada dirimu satu hal: tindakan yang kulakukan ini membuat orang-orang di sekitarku semakin menghabiskan tenaga, atau justru semakin bertumbuh? Membuat keadaan semakin retak, atau menjadi semakin harmonis?
Selama niat hatimu adalah “menggenapi keseluruhan”, maka kamu sedang bekerja untuk Pencipta.
Langkah ketiga: menjadi “saluran” bagi langit dan bumi.
Jangan berebut makanan seekor ikan. Kamu harus membantu Pencipta memelihara satu akuarium ikan. Saat kamu menjadikannya naluri untuk membantu atasan menyelesaikan masalah, membantu pelanggan meningkatkan nilai, dan membantu masyarakat mengoptimalkan efisiensi, segelmu pun benar-benar terbuka. Kamu tidak lagi susah payah memohon uang, melainkan kekayaan itu harus terwujud lewat dirimu karena semesta mewajibkannya.
Karena kamu adalah tangan pendorongnya yang paling andal, paling seirama.
Ingat kalimat ini: jangan rebut kepentingan kecil, bidik gambaran besar. Saat kamu tidak lagi berebut makan dengan ikan-ikan, melainkan membantu Pencipta memelihara ikan, seluruh semesta akan datang membantumu.