#BinancePickAndWin Piala Dunia memiliki tempat yang paling memikat—ternyata itu tidak pernah hanya soal sepak bola.

Piala Dunia adalah “penyebut terbesar” dari emosi global yang terjadi tiap empat tahun—tidak ada ajang lain yang bisa membuat seseorang yang biasanya tidak bermain bola pun rela bangun jam tiga pagi untuk berteriak kencang atas satu tendangan lengkung yang menukik. Piala Dunia 2022 di Qatar terasa lebih istimewa lagi: Messi akhirnya mengangkat trofi, Ronaldo mengakhiri kariernya, Mbappé mencetak hat-trick di partai final—membawa “narasi individual” dan “romantika tim nasional” ke puncak dalam hampir dua dekade.

Namun, retakan dalam dua edisi terakhir juga semakin terlihat: VAR menghabiskan keuntungan dari keputusan yang keliru, sehingga “liar”-nya pertandingan berkurang satu bagian; pada 2026, saat Piala Dunia diperluas menjadi 48 tim (Amerika Serikat, Kanada, Meksiko), permainan fase grup yang terasa “diisi” hampir pasti terjadi. FIFA memang akan bisa meraup lebih banyak uang, tetapi “kelangkaan” Piala Dunia akan ikut terdilusi—seperti saat kamu mengubah Michelin dari pengalaman bersantap biasa menjadi prasmanan: jumlahnya naik, tapi rasa seremonialnya turun.

💡 Kesimpulanku: 2030 (Piala Dunia seratus tahun, tuan rumah bersama Maroko?—maksudnya: penyelenggaraan bersama dari Spanyol, Portugal, Maroko + tiga negara Arab?) akan menjadi Piala Dunia terakhir dengan “bentuk klasik”; setelah itu, membicarakan “kemurnian” akan semakin sulit. Sambil masih bisa menonton, lihat lagi dua kali.