Menurut Axios, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi bertemu dengan Presiden Trump di Gedung Putih pada Selasa, kunjungan yang dipandang pejabat AS sebagai sinyal bahwa pemerintahan Irak yang baru sedang bergerak menuju Amerika Serikat dan menjauh dari Iran. Zaidi, seorang pengusaha berusia 40 tahun yang beralih menjadi politisi dan mulai menjabat pada Mei setelah kebuntuan politik yang panjang, adalah kandidat kompromi yang didukung faksi-faksi Syiah dan pemerintahan Trump. Gedung Putih memandang Zaidi tidak bergantung pada dukungan Teheran, berbeda dengan lawannya. Zaidi berjanji untuk membendung korupsi dan mengekang milisi yang didukung Iran. Pejabat AS mengatakan Iran menekan Zaidi agar tidak melakukan kunjungan pertamanya ke luar negeri sebagai perdana menteri ke Washington, tetapi ia tetap bersikeras untuk bertemu Trump. Dalam pertemuan itu, Trump memuji Zaidi sebagai "juara yang luar biasa" dan menambahkan makan siang yang tidak direncanakan. Zaidi tidak menyebut Iran, namun berbicara tentang penguatan hubungan ekonomi dengan AS, dengan menyimpulkan penarikan pasukan AS dari Irak pada bulan September, melucuti milisi, serta memastikan semua senjata berada di bawah otoritas negara Irak. Pelucutan milisi Syiah yang didukung Iran menjadi isu utama dalam pertemuan dengan Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.