Ada seorang perempuan yang bertanya di internet tentang sebuah pertanyaan yang menyentuh kedalaman jiwa seorang pria. Ia berkata, “Tanyakan kepada semua pria di seluruh dunia satu pertanyaan: dilarang berbohong. Jika wanita yang dulu kamu cintai tapi tidak bisa bersamanya bercerai, dan saat ini kamu juga masih lajang, apakah kamu masih bersedia menikahinya?”

Netizen memenuhi layar:

1. Sebuah apel tumbuh di puncak pohon. Kamu sudah berusaha sekuat tenaga tapi tetap tidak bisa memetiknya. Belakangan orang lain memetiknya dengan santai, menggigitnya lalu merasa tidak enak, kemudian membuangnya ke tanah dan menginjaknya beberapa kali. Apakah kamu masih akan mengambilnya untuk dimakan?

2. Meminjam satu kalimat dari Liang Jiahui: dulu saat kita masing-masing baru berusia delapan belas, kamu menolakku. Sekarang aku sudah tiga puluh delapan, aku tidak berubah—aku masih menyukaimu yang berusia delapan belas, tetapi kamu juga sudah tiga puluh delapan, jadi maaf ya.

3. Hadapi saja dengan realistis. Aku sudah menikah lebih dari sepuluh tahun. Beberapa waktu lalu, mantan pacar pertamaku yang merantau jauh menikah, tiba-tiba mengirim pesan. Katanya dia pulang sendirian ke kota tempat kami dulu saling kenal dan jatuh cinta, dan sekarang sudah mendapat pekerjaan. Dia mengundangku kalau ada waktu untuk makan bersama. Aku cuma menanggapi dengan sopan beberapa kalimat, tidak mengganggu lebih jauh, dan tentu saja tidak akan datang memenuhi ajakan itu. Yang aku suka adalah dia yang dulu—bagian kenangan yang kusimpan di dalam hati. Kalau benar-benar bertemu, malah semuanya akan hancur oleh realitas.

4. Kuda yang baik tidak makan rumput yang tumbuh lagi. Apalagi manusia.

5. Waktu itu kamu mengincar sepasang sepatu, uangnya tidak cukup jadi tidak jadi membeli. Lalu ada orang lain yang membelinya, memakainya sampai rusak, sepatu itu juga kotor sekali, ditinggal di alam liar. Kamu masih akan memungutnya kembali untuk dipakai, bukan?

【Pendapat pribadi】

Aku percaya komentar-komentar dengan nada pedas dan perumpamaan yang lugas seperti ini, semuanya adalah pikiran paling jujur yang tersimpan terdalam di hati netizen.

Pria yang merindukan adalah dirinya yang dulu—bukan dirinya yang sekarang. Dulu aku berdebar karena usia itu, masa itu, dan cara menyukai yang begitu murni. Kini orang bisa berubah, pengalaman juga berubah, cara pandang pun berubah—jelas tidak lagi menjadi orang yang sama.

Dulu tidak bisa bersama—entah karena waktunya tidak tepat, atau karena tabiatnya tidak cocok, atau karena dia memang tidak memilihnya sejak awal. Masalah-masalah ini tidak akan hilang otomatis hanya karena dia bercerai atau dia masih lajang. Kalau dipaksa untuk bersama, konflik lama justru akan meledak lagi.

Tak ada yang ingin menjadi cadangan, jalan keluar, atau alat untuk menyembuhkan luka dalam perasaan orang lain. Pernikahan itu harus saling mendatangi, memilih dengan hati-hati—bukan untuk menutupi penyesalan masa lalu, dan bukan juga karena ada kesempatan saat orang lain sedang lemah.

Belum didapat, dia terlihat sempurna; saat benar-benar menjalani hari-hari bersama, kebutuhan sehari-hari, minyak garam hidup, kekurangan, dan pertentangan akan terbongkar. Daripada merusak sedikit keindahan terakhir di dalam hati, lebih baik jaga jarak, dan masing-masing menjalani hidup dengan baik.

Dulu dia tak mampu meraihnya, kini juga tak perlu membungkuk untuk memungutnya. Perasaan yang baik itu setara, berwibawa, dan saling menghargai; bukan seperti, “Kalau orang itu tidak jadi memilihnya, aku datang untuk menggantikan.” Dia pantas mendapatkan sebuah perasaan yang baru, benar-benar layak dan jelas, bukan penyesalan yang sudah lewat masa.

Waktu mencintai tapi tidak mendapatkan, memang pada dasarnya adalah sebuah penyesalan yang belum selesai; wujud paling indah hanya tinggal di masa lalu. Seiring berjalannya waktu dan keadaan berubah, kalian berdua juga sudah bukan lagi orang yang dulu. Memaksakan agar tersusun kembali bukan hanya tidak menghargai keadaan dan perasaan satu sama lain saat ini, tapi juga merusak momen berdebar yang pernah ada.

Cukup kirim doa yang jauh saja; tidak perlu lagi mengubah kenangan menjadi kehidupan.

Yang dia rindukan adalah masa muda, bukan orang ini; yang dia inginkan adalah kebahagiaan, bukan sekadar mewujudkan mimpi.