Duka Linsay·Graham
Sang penyerang ulung kapitalisme perampok, perampok berpengalaman atas minyak Timur Tengah, dalang di balik banyak perang geopolitik di Ukraina-Rusia dan konflik AS-Iran, serta penghasut perang yang sudah lama berkecimpung di kancah politik—Linsay·Graham, pada malam 11 Juli 2026, akhirnya mengakhiri hidupnya yang dipenuhi asap mesiu dan keserakahan.
Kehidupan Graham adalah cerminan paling ekstrem dari penghayatan perampasan modal. Seumur hidup ia percaya peluru adalah keuntungan, kepulan asap mesiu adalah laporan keuangan; ambisinya yang berdarah tidak pernah ia sembunyikan. Pernah ia dengan terang-terangan menggebu-gebu bahwa menyerang Iran adalah “investasi dengan nilai terbaik”, dan mengklaim bahwa merebut Pulau Khark dapat membuat AS meraup untung berlimpah.
Ia seumur hidup berpegang pada seperangkat kaidah yang absurd: memaksa sumber daya minyak dan gas serta kekayaan tanah milik negara lain dihitung menjadi laba tercatat di Wall Street. Kelakuan spekulasi perang yang gila seperti itu membuatnya diingat selamanya oleh Rusia, Iran, dan tak terhitung banyak warga di seluruh dunia—hingga ia menjadi pedagang perang yang dibenci oleh semua orang.
Di luar fanatisme akan perang, ia juga seorang politisi spekulatif yang sepenuhnya mementingkan diri sendiri, mempertontonkan standar ganda dan kecenderungan menjilat kekuasaan hingga titik paling ekstrem. Saat Trump kalah, ia menghina tanpa ampun dan melontarkan kata-kata kejam; setelah Trump berkuasa, ia terlebih dahulu merendah, mengais simpati, dan segera bergabung di kubu.
Ketika terjadi kerusuhan di Capitol Hill, ia pura-pura berduka dan berseru “sampai di sini saja”; tetapi seketika ia mengubah nada, memuji bahwa pihak lawan itu tak tergantikan.
Sepanjang hidupnya, ia dengan presisi menerapkan logika dasar kapitalisme: pendirian hanya bahan habis pakai, sedangkan kepentingan adalah kebenaran yang sesungguhnya.
Kini, politisi yang seumur hidup menghasut perang dan mengeruk kekayaan negeri orang lain akhirnya berakhir juga. Marilah kita berikan “dukacita” kepada Setan, semoga neraka tak lagi memiliki ladang minyak, tak lagi dilanda perang—dan sejak saat itu, tak ada lagi ruang untuk mencari untung dari spekulasi!
Sang penyerang ulung kapitalisme perampok, perampok berpengalaman atas minyak Timur Tengah, dalang di balik banyak perang geopolitik di Ukraina-Rusia dan konflik AS-Iran, serta penghasut perang yang sudah lama berkecimpung di kancah politik—Linsay·Graham, pada malam 11 Juli 2026, akhirnya mengakhiri hidupnya yang dipenuhi asap mesiu dan keserakahan.
Kehidupan Graham adalah cerminan paling ekstrem dari penghayatan perampasan modal. Seumur hidup ia percaya peluru adalah keuntungan, kepulan asap mesiu adalah laporan keuangan; ambisinya yang berdarah tidak pernah ia sembunyikan. Pernah ia dengan terang-terangan menggebu-gebu bahwa menyerang Iran adalah “investasi dengan nilai terbaik”, dan mengklaim bahwa merebut Pulau Khark dapat membuat AS meraup untung berlimpah.
Ia seumur hidup berpegang pada seperangkat kaidah yang absurd: memaksa sumber daya minyak dan gas serta kekayaan tanah milik negara lain dihitung menjadi laba tercatat di Wall Street. Kelakuan spekulasi perang yang gila seperti itu membuatnya diingat selamanya oleh Rusia, Iran, dan tak terhitung banyak warga di seluruh dunia—hingga ia menjadi pedagang perang yang dibenci oleh semua orang.
Di luar fanatisme akan perang, ia juga seorang politisi spekulatif yang sepenuhnya mementingkan diri sendiri, mempertontonkan standar ganda dan kecenderungan menjilat kekuasaan hingga titik paling ekstrem. Saat Trump kalah, ia menghina tanpa ampun dan melontarkan kata-kata kejam; setelah Trump berkuasa, ia terlebih dahulu merendah, mengais simpati, dan segera bergabung di kubu.
Ketika terjadi kerusuhan di Capitol Hill, ia pura-pura berduka dan berseru “sampai di sini saja”; tetapi seketika ia mengubah nada, memuji bahwa pihak lawan itu tak tergantikan.
Sepanjang hidupnya, ia dengan presisi menerapkan logika dasar kapitalisme: pendirian hanya bahan habis pakai, sedangkan kepentingan adalah kebenaran yang sesungguhnya.
Kini, politisi yang seumur hidup menghasut perang dan mengeruk kekayaan negeri orang lain akhirnya berakhir juga. Marilah kita berikan “dukacita” kepada Setan, semoga neraka tak lagi memiliki ladang minyak, tak lagi dilanda perang—dan sejak saat itu, tak ada lagi ruang untuk mencari untung dari spekulasi!