Apakah trading bisa menghasilkan uang tidak terlalu berhubungan dengan jumlah uang yang “diam” di akun, tetapi lebih besar hubungannya dengan apa yang dipikirkan orang yang duduk di depan layar. Setelah melihat banyak akun, saya menemukan pola: orang-orang yang bisa melakukannya dengan stabil biasanya bukan yang paling sibuk. Setiap hari sibuk dari pagi sampai malam, order dibuka lalu ditutup lagi, takut melewatkan sesuatu—akhirnya sibuk berputar, tetapi uangnya tidak banyak menghasilkan, sementara biaya/komisi yang dibayar justru lumayan banyak. Kalimat paling menyesatkan di dunia crypto adalah “kesempatan selalu ada”. Padahal, momen yang benar-benar layak untuk masuk tidak sesering itu. Sebagian besar waktu justru dipakai untuk mengasah kesabaran. Membuka order secara asal sama saja memberi uang kepada pasar. Jika dikasih terlalu banyak, mental ikut kacau.
Saat ini saya hanya mengakui satu hal—irama/rhythm. Belum sampai pada posisi yang sesuai dengan rencana, saya tidak akan bergerak. Naik sebesar apa pun tidak ada urusan dengan saya. Keuntungan yang dikejar saat terlambat bukan milik kita, itu adalah menukar modal. Kebiasaan lain: kalau sudah mencapai target, langsung pergi. Bagian kepala dan ekor ikan biarkan orang lain makan; saya hanya makan bagian yang saya pahami. Rugi sedikit tidak masalah, tapi kalau tidak pergi saat seharusnya, biasanya berikutnya jadi berantakan.
#OndoOUSGReports$407MTotalValue $LAB
Orang yang sudah matang tidak terlalu peduli berapa banyak profit per transaksi, tetapi lebih peduli apa yang akan terjadi kalau transaksi ini rugi. Uang yang rugi masih bisa dipulihkan, tetapi kalau irama (timing) putus, akan sulit untuk menyambung lagi. Stabilitas trading bukan didapat dari seberapa sering kita benar menebak pergerakan, melainkan dari kemampuan mengendalikan diri—menunggu saat harus menunggu, dan mengambil/menutup saat harus ditutup. Orang yang mampu menahan diri untuk tidak bergerak, dialah yang benar-benar sedang maju. $BTC