Pasar bahan kimia global menyimpang karena geopolitik memberikan dukungan jangka pendek, sementara kelebihan pasokan terus membebani prospek
🛢️ Ketegangan AS–Iran yang kembali memanas pada 7–8 Juli sempat mendorong minyak Brent melewati $78 per barel, sehingga meningkatkan biaya bahan baku dan memicu pembelian jangka pendek di beberapa segmen kimia Asia.
📈 Aromatik menunjukkan respons paling jelas. Harga benzena domestik di Tiongkok naik sekitar 3,5%, sementara monomer stirena menguat hampir 6% ke level tertingginya sejak pertengahan Juni. Namun, kenaikan tersebut terutama didorong oleh premi risiko pasokan dan sentimen pasar, bukan pemulihan permintaan yang berkelanjutan.
🏭 Tekanan jangka menengah masih terkonsentrasi pada poliolefin. Tiongkok diperkirakan akan menambah sekitar 5,7 juta ton kapasitas PP dan 5,5 juta ton kapasitas PE pada tahun 2026, dengan sebagian besar pasokan baru dijadwalkan pada paruh kedua. Lemahnya permintaan dari sektor hilir dapat membuat harga dan margin tetap berada di bawah tekanan.
🌾 Pasar pupuk tetap terpecah. Urea dan amonia terus terkoreksi seiring pulihnya pasokan dari Timur Tengah, dengan harga impor urea India turun menjadi sekitar $445 per ton dari sebelumnya di atas $900. Fosfat dan potas tetap lebih tangguh berkat tingginya biaya sulfur dan pembatasan pasokan yang selektif.
⚗️ Metanol juga menghadapi risiko penurunan karena lebih dari setengah kapasitas produksi Iran telah kembali beroperasi. Meningkatnya kedatangan kargo berpotensi menambah inventaris di pelabuhan Tiongkok pada Juli dan Agustus, meskipun biaya angkut dan asuransi masih berada di atas level sebelum konflik.
🔎 Dalam jangka pendek, aromatik dan produk terkait minyak mungkin tetap sensitif terhadap perkembangan di sekitar Selat Hormuz. Prospek jangka menengah masih berhati-hati karena kapasitas baru, inventaris yang tinggi, dan permintaan yang lemah terus mendominasi sebagian besar pasar bahan kimia dasar.
#Chemicals $BTC $ETH $BNB
🛢️ Ketegangan AS–Iran yang kembali memanas pada 7–8 Juli sempat mendorong minyak Brent melewati $78 per barel, sehingga meningkatkan biaya bahan baku dan memicu pembelian jangka pendek di beberapa segmen kimia Asia.
📈 Aromatik menunjukkan respons paling jelas. Harga benzena domestik di Tiongkok naik sekitar 3,5%, sementara monomer stirena menguat hampir 6% ke level tertingginya sejak pertengahan Juni. Namun, kenaikan tersebut terutama didorong oleh premi risiko pasokan dan sentimen pasar, bukan pemulihan permintaan yang berkelanjutan.
🏭 Tekanan jangka menengah masih terkonsentrasi pada poliolefin. Tiongkok diperkirakan akan menambah sekitar 5,7 juta ton kapasitas PP dan 5,5 juta ton kapasitas PE pada tahun 2026, dengan sebagian besar pasokan baru dijadwalkan pada paruh kedua. Lemahnya permintaan dari sektor hilir dapat membuat harga dan margin tetap berada di bawah tekanan.
🌾 Pasar pupuk tetap terpecah. Urea dan amonia terus terkoreksi seiring pulihnya pasokan dari Timur Tengah, dengan harga impor urea India turun menjadi sekitar $445 per ton dari sebelumnya di atas $900. Fosfat dan potas tetap lebih tangguh berkat tingginya biaya sulfur dan pembatasan pasokan yang selektif.
⚗️ Metanol juga menghadapi risiko penurunan karena lebih dari setengah kapasitas produksi Iran telah kembali beroperasi. Meningkatnya kedatangan kargo berpotensi menambah inventaris di pelabuhan Tiongkok pada Juli dan Agustus, meskipun biaya angkut dan asuransi masih berada di atas level sebelum konflik.
🔎 Dalam jangka pendek, aromatik dan produk terkait minyak mungkin tetap sensitif terhadap perkembangan di sekitar Selat Hormuz. Prospek jangka menengah masih berhati-hati karena kapasitas baru, inventaris yang tinggi, dan permintaan yang lemah terus mendominasi sebagian besar pasar bahan kimia dasar.
#Chemicals $BTC $ETH $BNB
