Kalau semua orang sudah full posisi dengan leverage, siapa yang akan mengambil tongkat estafet terakhir?

Pada 10 Juli waktu Amerika Serikat bagian Timur, The Fed merilis laporan semistran tahunan pertamanya (laporan kebijakan moneter) setelah ketua baru Kevin Warsh menjabat. Dua hari sebelumnya, risalah rapat FOMC bulan Juni juga sudah keluar.

Dua dokumen itu menyampaikan sinyal yang sama: inflasi sangat bandel, dan The Fed sangat hawkish.

Kesatu, “tiga gunung baru” inflasi

Laporan menunjukkan inflasi AS sudah meningkat secara signifikan. Indeks harga PCE yang paling diperhatikan The Fed melonjak dari 2,5% setahun lalu menjadi 4,1%, sedangkan PCE inti naik dari 2,8% menjadi 3,4%.

Siapa yang harus bertanggung jawab atas putaran inflasi ini? The Fed menyebut tiga hal:

Pertama, tarif. Sebelumnya kenaikan tarif yang dikenakan masih terus berlangsung, sehingga terus mendorong biaya barang di tingkat akhir.

Kedua, konflik geopolitik di Timur Tengah. Konflik AS-Iran yang berlanjut mengganggu pelayaran Selat Hormuz, mendorong harga energi global naik, dan inflasi menular sepenuhnya sepanjang rantai industri.

Ketiga, pembangunan pusat data AI. Ini adalah variabel baru yang paling layak diperhatikan. Lonjakan kebutuhan infrastruktur AI sedang menghabiskan listrik, semikonduktor kelas atas, dan material logam khusus dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perhitungan Goldman Sachs menunjukkan efek berlapis tiga—kenaikan harga memori berbasis AI, kenaikan harga perangkat lunak, dan kenaikan harga listrik—telah mendorong PCE inti year-on-year naik lebih dari 0,2 poin persentase, dan diperkirakan kontribusinya akan meningkat hingga 0,5 poin persentase pada akhir tahun.

Inilah juga pertama kalinya The Fed memasukkan investasi infrastruktur AI sekaligus sebagai “sumber inflasi” dan “pilar pertumbuhan”. Laporan menyebutkan, pada kuartal pertama pertumbuhan PDB riil AS secara tahunan adalah 2,1%, dan pendorong utama pertumbuhan tersebut adalah ekspansi kebutuhan peralatan akibat pembangunan pusat data AI.

Dengan kata lain: AI menopang pertumbuhan di satu sisi, sementara membakar inflasi di sisi lain.

Kedua, “kalimat keras” versi Warsh: tekan inflasi tanpa peduli biayanya

Dibandingkan dengan data itu sendiri, yang lebih patut diperhatikan adalah perubahan mendasar dalam pilihan kata.

Seluruh laporan menyebut “stabilitas harga” sebanyak 14 kali, hampir tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Yang lebih penting, laporan tersebut menghapus ungkapan yang sebelumnya masih samar seperti “data-dependent” dan “menunggu informasi lebih lanjut”, lalu langsung menampilkan kartu utama:

“The Committee will deliver price stability.” (Komite akan mewujudkan stabilitas harga.)

Pada saat yang sama, The Fed juga menghapus frasa seperti “target inflasi rata-rata” dan “overshoot kompensatoris” yang menyebabkan respons kebijakan menjadi terlambat.

Risalah rapat bulan Juni juga bersifat hawkish—“hampir semua” peserta menyatakan bahwa jika inflasi terus tinggi, ke depan akan perlu dilakukan pengetatan kebijakan pada tingkat tertentu. Untuk pertama kalinya, risalah tersebut menempatkan investasi AI sejajar dengan tarif dan konflik di Timur Tengah sebagai risiko inflasi utama.

Pasar sudah “memilih dengan kaki”. Survei CME “Fed Watch” menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada bulan September sudah melebihi 50%.

Ketiga, ambisinya besar, tapi ada dua masalah

Pernyataan The Fed sangat ambisius, tapi jujur saja—saya hanya percaya pada bagian pertama.

Inflasi memang bandel. Menekan PCE dari 4,1% kembali ke 2% jelas tidak bisa dilakukan hanya dengan menambah satu-dua kali suku bunga seperti mengibaskan lengan. Lengketnya inflasi AS sudah terkenal sangat tinggi—harus dengan intensitas yang nyata.

Tapi kalau benar-benar menambah intensitas, ada dua masalah besar:

Masalah pertama: apakah fiskal sanggup bertahan?

Utang pemerintah AS sudah menembus lebih dari 360 triliun dolar AS. Setiap kali suku bunga dinaikkan 100 basis poin, hanya untuk biaya bunga saja harus mengeluarkan ribuan miliar dolar. Fiskal sama sekali tidak mampu menanggungnya.

The Fed mungkin bisa bertahan keras—menaikkan suku bunga, membuat Departemen Keuangan yang menanggung bunga. Kalau tidak bisa juga, ya mencetak uang untuk mendukung. Hasilnya: dolar perlahan terdepresiasi, sampai begitu pelan sehingga banyak orang tidak sempat menyadarinya.

Namun untuk masalah kedua, tidak semudah itu bisa diabaikan.

Keempat, alarm sudah berbunyi

Lihat data di pasar saham AS saat ini:

Proporsi alokasi saham rumah tangga AS sudah mencapai 45,8%, menempati persentil 99% dalam data 80 tahun. Semua orang sudah full posisi, lalu siapa yang masih bisa terus membeli?

Yang paling membuat gelisah justru adalah leverage. Data Otoritas Pengatur Industri Keuangan AS (FINRA) menunjukkan bahwa pada Mei 2026 utang margin mencapai rekor 1,42 triliun dolar AS, naik 53,7% year-on-year.

Dalam sejarah, lonjakan besar utang margin berkali-kali muncul sebelum puncak pasar—gelembung internet tahun 2000, krisis keuangan tahun 2007, dan Oktober 2021.

Seluruh pasar sedang gila-gilaan menaikkan leverage untuk mengejar saham, hampir semua uang yang bisa dipinjam sudah dipinjam. Ini adalah sinyal khas menjelang akhir bull market—semua orang full posisi dengan leverage, tidak ada lagi dana untuk menjadi pembeli berikutnya. Begitu ada kabar buruk, penutupan posisi terpusat dari dana berleverage akan memicu reaksi berantai.

Perkiraan rilis data pembiayaan utang jaminan terbaru untuk bulan Juni diperkirakan akan diumumkan pada 21 Juli—dan kapan angka itu mulai turun, mungkin itulah domino pertama yang jatuh.

Sedangkan pernyataan The Fed yang makin hawkish, mungkin justru adalah tangan yang menjatuhkannya.

Reaksi pasar saham langsung terasa—bagi setiap orang itu benar-benar pukulan telak, tidak seperti depresiasi dolar yang berjalan pelan sampai membuat orang sulit menyadarinya.

Kelima, penutup

The Fed berkata “tekan inflasi dengan cara apa pun”—saya percaya mereka memang berniat melakukan itu.

Tapi berapa harganya? Berapa lama fiskal masih sanggup bertahan? Gelembung besar leverage di pasar saham ini, sanggup menahan beberapa kali kenaikan suku bunga?

Jawabannya mungkin akan segera terungkap.

Artikel ini didasarkan pada data publik dan informasi pasar untuk analisis yang objektif, dan tidak merupakan nasihat investasi apa pun.