Dulu, Piala Dunia adalah bulan yang bergoyang di gelas ayah, adalah cahaya neon televisi tengah malam yang menyorot kerutan di sudut matanya. Aku berbaring di alas tikar yang dingin, tak mengerti tentang offside, hanya mengenali pria Brasil berambut gondrong bergaya “Afoo” itu. Saat ia berlari, ia seperti angin berwarna emas yang menggulung seluruh bunyi jangkrik musim panas itu ke dalam jaring.

Belakangan, aku sendiri menjadi orang yang begadang. Pada 2010, suara vuvuzela di Afrika Selatan membuat telingaku serasa mencelos, aku menonton layar kecil di kamar asrama, menyaksikan gol penentu kemenangan dari Iniestа pada babak tambahan waktu. Saat itu, seluruh gedung ikut bergetar; orang-orang asing di lorong saling memeluk dan menangis, seolah kami berbagi satu jantung yang sama.

Setelah itu, Messi akhirnya mengangkat trofi Dewi Kekuatan, air mata Cristiano Ronaldo meluap melewati senja Lisboa, dan Modrić, dengan tubuhnya yang kurus, menyeret Kroasia berlari sampai satu kilometer terakhir. Aku baru sadar: Piala Dunia tidak pernah sekadar perburuan dari dua puluh dua orang—ia adalah lingkaran tahun masa muda kami, setiap empat tahun meninggalkan satu goresan hangat. Jeritan, penyesalan, pembalikan, dan keajaiban itu semua adalah kembang api yang paling luar biasa di dalam kehidupan yang biasanya biasa saja.

Sepak bola menggelinding melewati rumput, melewati benua dan lautan, juga melewati wajah-wajah kami dari remaja hingga dewasa. Ketika peluit berbunyi lagi, aku tahu: aku akan kembali ke dunia tanpa batas negara, tanpa usia, hanya dipenuhi pesta pora. Karena di sini, semua air mata terasa hangat, semua mimpi layak untuk dipercaya lagi.
#BianacePickAndWin