Satu petuah yang membuat tercerahkan: “Ada orang yang selalu takut mati. Padahal, banyak orang yang meninggal di usia enam atau tujuh puluhan tidak memiliki perbedaan mendasar dengan orang yang meninggal di usia delapan atau sembilan puluhan. Hidup dua puluh tahun lebih, hanya berarti lebih banyak penyakit dan lebih banyak kegelisahan.” Yu Hua pernah berkata: “Kita datang ke dunia ini karena memang terpaksa datang; kita pergi dari dunia ini juga karena memang terpaksa pergi. Begitulah hidup. Tak peduli miskin atau kaya, selama kita merasa hidup dengan bahagia, maka itu adalah sebuah keberhasilan.”

Intinya: hidup lebih lama dua puluh tahun? Bagi banyak orang, itu tidak lebih dari menambah dua puluh tahun cicilan rumah, dua puluh tahun menanggung “muka” orang lain, dua puluh tahun menahan sakit, dan dua puluh tahun memikul kekhawatiran anak-cucu! Sebelum takut mati, tanyakan dulu pada diri sendiri: apakah Anda benar-benar “hidup”? Ada yang berkata: “Hidup sampai usia 70 dan hidup sampai 90, bedanya tidak lebih hanya: tambahan 20 tahun penyakit, tambahan 20 tahun kesedihan.” Kalimat itu terdengar menusuk, tapi membuat orang tidak bisa tidak bertanya: ketika kita mati-matian ingin memperpanjang umur, yang benar-benar diperpanjang itu hidup, atau justru penderitaan?

"Hidup" ala manusia modern lebih mirip sebuah perjalanan panjang menahan. Saat membuka mata ada obat penurun tekanan darah, saat menutup mata ada tagihan cicilan rumah. Di dalam hati ada perbandingan, kecemasan, dan rasa tidak rela. Hari-hari diulang seperti mesin fotokopi. Kita menyebut ini "kehidupan", padahal bagi banyak orang, mereka hanya "belum mati". Ada yang umur 30 sudah hidup seperti orang tanpa nyawa: masuk kerja menunggu pulang, Senin menunggu Jumat, hidup cuma tinggal "bertahan". Ada juga yang umur 60 masih belajar skill baru, berpacaran, dan berkeliling dunia—setiap harinya terasa segar seperti baru lahir. Usia tidak pernah menjadi ukuran utama untuk menilai kehidupan, yang lebih menentukan adalah cara pandang.

Hidup 20 tahun lebih lama itu berkah atau penderitaan? Ada yang usia 80 masih menari tango, ada yang umur 50 sudah menunggu kematian.

Ada orang yang berbaring di ICU, hidup diperpanjang oleh mesin; ada yang di pinggir jalan mengipas sambil makan semangka, tertawa lebih lepas daripada siapa pun. Kalau 20 tahun tambahan itu cuma berarti tambah 20 tahun makan obat, menahan 20 tahun amarah, dan membayar 20 tahun utang, maka "umur panjang" itu hanyalah lelucon kejam dari Tuhan.

Hidup yang sebenarnya adalah membuat setiap momen layak dikenang. Makna hidup tidak terletak pada jumlah kali kita bernapas, melainkan pada momen-momen yang membuat jantung berdebar dan mata terasa panas: berlari sambil tertawa di tengah hujan lebat, tidak peduli tatapan orang-orang; larut malam mengobrol dengan teman dalam keadaan mabuk bahagia tentang mimpi—meski besok semua mungkin sudah lupa; mengerahkan seluruh tenaga untuk hal yang dicintai, meski pada akhirnya tidak berhasil; disapa oleh senyum kecil dari orang asing yang membuat kita merasa bahwa hidup di dunia ini benar-benar layak. Momen-momen seperti inilah yang benar-benar disebut "hidup".

Kematian tidak menakutkan, yang menakutkan adalah tidak pernah benar-benar hidup. Kita semua takut mati, tapi jarang sekali takut pada "sekadar hidup tanpa makna". Kamu takut mati—tapi kalau besok adalah hari terakhirmu, penyesalan apa yang akan kamu sesali? Uang belum cukup? Tidak berani menjadi dirimu sendiri? Tidak pernah mencintai orang yang ingin kamu cintai? Tidak pernah pergi ke tempat yang ingin kamu kunjungi?

Tragedi terbesar dalam hidup bukanlah kematian, melainkan baru menyadari saat ajal menjemput bahwa kita tidak pernah benar-benar hidup untuk diri sendiri.

Jadi, saat masih hidup, jangan cuma menghitung usia! Bernapas bukan berarti hidup. Bahagia adalah kuncinya yang paling benar. Di dunia ini, datanglah, pernah tertawa, pernah gila, pernah mencintai—itu sudah cukup. Jangan menunggu sampai sebelum akhir hayat baru mengerti arti hidup. Selama ini, bukan soal hidup yang lama, tapi hidup yang sepenuh-penuhnya dan terasa.